RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Reformasi nilai tukar mata uang Yuan yang terbesar yang pernah dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dalam satu dekade ini ternyata tidak besar pengaruhnya bagi Yuan untuk mendapatkan status sebagai mata uang devisa International Monetary Fund (IMF). Pertanyaan yang masih mengganjal adalah seberapa bebaskah nilai tukar Yuan ini akan berlangsung.

Sebagaimana diketahui bahwa pada Agustus kemarin, bank sentral Tiongkok telah mengejutkan para investor global dengan langkah mendevaluasi Yuan dan mengeluarkan serangkaian kebijakan dengan tujuan pasar berpihak pada Yuan. Alhasil Yuan terdepresiasi beberapa langkah besar dalam dua dekade terakhir. Beijing merespon dengan melakukan serangkaian intervensi, pembatasan-pembatasan perdagangan berjangka dan meningkatkan pengawasan arus modal keluar. Peluang Yuan menjadi mata uang devisa oleh IMF bersama-sama dengan Dolar, Euro, Pound dan Yen hanya kurang dari 50%. Nilai tukar Yuan saat ini tidak nampak lagi mendorong pergerakan pasar daripada sebelumnya. Memang tidak bisa dipahami atau entah apa yang sebenarnya diubah. Sistemnya sendiri masih seperti gaya Tiongkok, masih buram dan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Keputusan untuk mengusahakan Yuan menjadi salah satu mata uang devisa lebih bernuansa politik, mengingat mata uang ini sebenarnya harus memenuhi sejumlah kriteria teknis untuk bisa dimasukkan dalam kelompok mata uang devisa. Dalam laporannya dibulan Juli, IMF menyatakan adanya perbedaan antara nilai tukar Yuan yang ada didalam negeri (onshore) dan diluar negeri (offshore). Dikatakan oleh IMF bahwa hal itu tentu akan menimbulkan masalah dalam melakukan valuasi, ditambah rentang antara keduanya yang melebar semenjak dilakukannya devaluasi. Untuk membantu dalam memitigasi masalah ini, Tiongkok membuka aturan mengenai perdagangan obligasi dan mata uang antar bank di Tiongkok bagi bank-bank sentral asing di tahun ini.

Peluang Yuan mengecil untuk menjadi mata uang devisa di tahun ini, terlebih dengan fluktuasi pasar uang dan bursa saham namun belum ada keterbukaan mengenai nilai modal Tiongkok, meskipun sejauh ini pemerintah Tiongkok telah melakukan berbagai kemajuan. ?Seandainya IMF bersedia mendukung Yuan sebagai mata uang devisa, setidaknya $1 Trilyun cadangan devisa global akan diubah kedalam Yuan, menurut perkiraan Manajer Investasi baik dari Standard Chartered dan AXA pada bulan Mei kemarin.

Untuk lebih menglobal, Pihak bank sentral Tiongkok, PBOC pada minggu lalu telah menyatakan akan menjual Obligasi Yuan di bursa London dalam waktu dekat ini. Sebagaimana dalam laporan IMF pada bulan Juli silam bahwa banyaknya cadangan resmi akan menjadi salah satu indikator penting sebuah mata uang dimasukkan sebagai mata uang devisa IMF. Yuan sendiri di tahun lalu menepati peringkat ke-7. ?Devisa dalam Yuan hanya tercatat sebesar 1,1 persen dari keseluruhan sementara dalam bentuk Dolar AS mencapai 63,7 %. Memang langkah untuk mendevaluasi Yuan ini sejalan dengan reformasi nilai tukarnya yang masih sesuai dengan arah menuju keberhasilan terpilih sebagai mata uang devisa. IMF sendiri tidak menutup kemungkinan keberhasilan Yuan menjadi mata uang yang diliriknya menjadi mata uang devisa ditahun ini, meskipun keputusan akhir masih akan tergantung pada posisi AS kembali. Jika dilakukan sidang dewan eksekutif IMF, yang menjadi perwakilan dari 188 anggota IMF, maka gabungan suara Jepang dan AS sendiri hanya mencakup 23 persen saja, belum cukup untuk memveto usulan agar Yuan dipinggirkan dari usaha menjadi mata uang devisa.

Langkah devaluasi Yuan kemarin, justru mengkonfirmasi kelompok yang tidak menginginkan Yuan menjadi mata uang devisa dengan alasan intervensi pemerintah yang besar dan mekanisme pasar sendiri saat ini tidak mendukung Yuan. Asumsinya, Yuan masih belum menjadi mata uang yang bebas jika pemerintah masih intervensi meski hanya melakukan pembatasan soal aliran modal keluar. Sebagai catatan, cadangan devisa Tiongkok dalam bentuk mata uang asing menurun hingga mencapai $93.9 Milyar dibulan Agustus setelah PBOC menjual Dolar dan melakukan pembelian Yuan. Awal bulan September ini, PBOC telah meminta lembaga-lembaga keuangan agar menempatkan setidaknya 20 persen kontrak penjualan berjangka mereka dalam bentuk Yuan dengan suku bunga nol persen selama setahun. Sementara itu Sekretaris Negara bidang Mata uang Asing telah meminta kepada perbankan nasional agar melakukan pengecekan khusus terhadap perdagangan mata uang asing dibawah rekening modal. Hal ini memperlihatkan seolah-olah Tiongkok melakukan satu langkah maju namun juga satu langkah mundur. Dalam jangka pendek, yang paling nyata adalah menempatkan mata uang ini lebih fleksible.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/yuan-berat-memikat-imf/