RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga emas dalam perdagangan awal minggu ini mencoba berbalik arah dari hasil merugi di minggu lalu.

Ditengah melunaknya nilai tukar Dolar AS, didorong oleh spekulasi bahwa The Federal Reserve menaikkan suku bunga di tahun ini, namun keyakinan akan dilakukan September ini menurun. Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah masih membayang-bayangi perdagangan komoditi global, termasuk emas. Kekhawatiran pasar adalah menurunnya harga minyak mentah akan membuat laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi semakin lamban.

Tetap saja harga emas berusaha bangkit dari keterpurukannya, dan mengakhiri perdagangan Agustus ini lebih tinggi dari awal bulan. Sentimen pendorong kenaikan harga emas masih didominasi kekhawatiran bahwa melambannya perekonomian Tiongkok akan membuat emas sebagai aset pengaman investasi menjadi menarik kembali. Popularitas Emas sebagai safe haven memang dibayang-bayangi rencana kenaikan suku bunga AS.

Pada Jumat lalu (28/08) Wakil Gubernur Bank Sentral AS Stanley Fischer, berbicara pada konferensi bank-bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, menyatakan bahwa volatilitas pasar global saat ini mulai mereda dan memungkinkan akan dilakukannya kenaikan suku bunga.

Sinyalemen ini menjadi sumber tekanan besar bagi harga emas dalam perdagangan lanjutan. Setidaknya para investor sejak dini sudah bersiap bahwa The Fed memang akan menaikkan suku bunganya.

Harga emas dipasar Spot diperdagangkan datar di harga $1.133,75 per ons dalam perdagangan yang tidak begitu ramai di bursa London akibat libur bank. Minggu lalu, harga emas turun sebesar lebih dari 2%. Sementara dalam perdagangan sebulan, harga emas mengalami naik sebesar 3,5%. Emas batangan tertahan laju harganya dalam perdagangan yang sempit, meski Dolar AS sudah mengalami tekanan dan turun atas sejumlah mata uang besar lainnya. Untuk kontrak pengiriman bulan Desember ini, harga emas berjangka diperdagangkan dikisaran $1.133,40 pr ons.

The Fed dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada 16-17 September ini. Beberapa pihak, meski mengalami penurunan jumlahnya, namun yakin bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan pada September ini. Sebagain besar lainnya meyakini kenaikan suku bunga akan dilakukan pada pertemuan The Fed lainnya, meski tetap menaikkan suku bunga di tahun ini. Suku bunga AS diperkirakan akan dinaikkan sebesar 0,25% untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade ini.

Bagi pihak-pihak yang merasa tidak yakin dengan kenaikan dibulan September ini, menggunakan pertimbangan bahwa perekonomian Tiongkok yang masih belum bisa bergerak naik dan pasar yang masih tidak menentu pula, menjadi landasana alasan ini. Pasar sendiri menyadari bahwa stabilitas pasar sendiri juga ditentukan dengan data-data ekonomi AS.

Dengan demikian, data-data itu masih menjadi hal yang penting untuk dicermati lebih jauh. Minggu ini, ada data mengenai non farm payroll AS untuk bulan Agustus. Jika data ini cukup baik bahkan mengalahkan perkiraan awal, tentu akan semakin memperkuat dugaan bahwa kenaikan suku bunga akan dilakukan pada September ini. Begitu juga sebaliknya, hasil yang kurang memuaskan pasar akan membuat The Fed berpikir ulang untuk menaikkan suku bunga di bulan September.

Dalam jangka waktu yang pendek pula, jatuhnya bursa saham Tiongkok akan menjadi peluang bagi kenaikan harga emas. Sebagian investor merasa was-was dengan jatuhnya bursa ini dan memilih emas sebagai tujuan investasinya. Sebagian investor lain, memilih posisi beli dengan melihat potensi yang lebih baik, membeli Perak.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/yakin-suku-bunga-naik-bukan-di-bulan-ini-harga-emas-terkatrol-naik/