PT Rifan Financindo – JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan total emisi obligasi dan sukuk pada perdagangan Rabu (27/7) sebanyak 44 emisi dari 35 emiten senilai Rp57,81 triliun.

Disebutkan dengan pencatatan ini maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 291 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp275,35 triliun dan USD50 juta, yang diterbitkan oleh 103 emiten.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp1.660,82 triliun dan USD1,24 miliar serta lima EBA tercatat senilai Rp1,95 triliun.

Jumlah ini bertambah seiring dicatatkannya obligasi berkelanjutan III Adira Finance tahap IV-2016 dan Sukuk Mudharabah berkelanjutan II Adira Finance tahap II-2016 yang diterbitkan oleh PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) di BEI.

Obligasi berkelanjutan tersebut terdiri Seri A dengan total dana Rp835 miliar jangka waktu 370 hari, Seri B Rp434 miliar jangka waktu 36 bulan, Seri C Rp431 miliar jangka waktu 60 bulan.

Adapun Sukuk Mudharabah Seri A dengan jumlah pokok Rp30 miliar jangka waktu 370 hari, Seri B Rp42 miliar jangka waktu 36 bulan dan Seri Rp14 miliar jangka waktu 60 bulan.

Hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk obligasi adalah idAAA dan Sukuk Mudharabah adalah idAAAsy. Bertindak sebagai wali amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

(mrt)

Sumber : Okezone

Bambang Brodjo: Sekarang Bukan Eranya Perencanaan Ekonomi

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Bambang PS Brodjonegoro telah resmi menyandang jabatan sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional menggantikan Sofyan Djalil. Pada hari pertamanya bertugas, Bambang segera memberikan arahan kepada para pejabat di lingkungan Kementerian PPN.

Menurut Bambang, saat ini ekonomi global telah berubah. Untuk itu, perencanaan ekonomi yang matang tidak lagi dapat digunakan sebagai senjata dalam menghadapi krisis ekonomi global.

“Sekarang, kita berhadapan dengan ekonomi yang basisnya mengikuti mekanisme mekanisme pasar. Sekarang pembangunan market economy, bukan lagi planned economy,” tegas Bambang dihadapan ratusan PNS Kementerian PPN, Jakarta, Kamis (28/7/2016).

[Baca juga: Meski Ekonomi Global Terpuruk, Ekonomi RI Tak Boleh Terseret]

Perencanaan ekonomi, kata Bambang, adalah cara lama untuk membangun ekonomi Indonesia. Namun, saat ini Indonesia butuh fondasi yang lebih kokoh sehingga siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

“Di dalam buku-buku pelajaran ekonomi perencanaan yang lama, memang masih mengasumsikan ekonomi itu bisa diatur dari atas. Tapi hari ini bukan gitu lagi ceritanya, hari ini kita harus bisa mengatur ekonomi dengan begitu banyak kekuatan berbagai pihak yang mempengaruhi mekanisme pasar,” tutupnya.

Untuk itu, nantinya Bambang akan segera menggandeng Bappeda untuk dapat melaksanakan program pembangunan ekonomi. Diharapkan, daerah juga semakin siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah ekonomi global yang tidak menentu.

(rai)

Sumber : Okezone