RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Bagi pelaku pasar yang sudah lama menantikan kepastian naiknya suku bunga AS, kabar terkini semakin menggembirakan. Gubernur Bank Sentral AS wilayah San Fransisco, John Williams mendesak agar suku bunga dinaikkan pada 2015 ini. Salah satu alasannya adalah ditenggarainya ketidak imbangan terkait harga properti.

Gubernur John Williams menegaskan kembali ekspektasinya akan naiknya suku bunga AS di tahun ini dan mengingatkan akan kenaikan harga perumahan yang berlangsung tajam, yang dianggapnya hal itu belum mencapai ?titik kritis?. ? Saat ini saya melihat tanda-tanda munculnya ketidak seimbangan dalam bentuk mahalnya harga aset properti, khususnya real estate, dan hal itu membangunkan sistem peringatan dini?, ungkap Williams di Los Angeles pada Senin (28/09) waktu setempat. ?Satu pelajaran yang saya dapat dari masa lalu, sekali terjadi ketidak seimbangan yang membesar, pilihan-pilihan untuk menyelesaikan masalah tersebut akan semakin sedikit?, imbuhnya.

Williams, merupakan salah satu anggota Dewan Gubernur Bank Sentral AS yang memiliki mandat suara dalam kebijakan moneter di tahun ini. Sejak awal, Williams menginginkan tingkat pengangguran harus turun dibawah 5% dan inflasi mencapai target 2% ditahun ini. ?Bila semua itu terwujud, semua akan berjalan sesuai dengan rencana yang diharapkan dan tidak menutup kemungkinan kita bisa mulai kembali melakukan normalisasi kebijakan moneter?, tegas Williams. Ditambahkan olehnya bahwa ada bahaya yang membayangi dibalik penguatan nilai Dolar AS saat ini, dan kondisi pertumbuhan ekonomi global yang melambat akan berdampak bagi AS.

Williams memang bukan satu-satunya orang yang menginginkan kenaikan suku bunga The Fed dilakukan tahun ini pada Senin kemarin. Sejawatnya, Gubernur Bank Sentral AS Wilayah New York, William C. Dudley?juga menyatakan hal yang serupa di New York. Kedua gubernur bank ini mencoba untuk mengukur kondisi ekonomi domestik apakah tepat saat melakukan kenaikan suku bunga apabila dibandingkan dengan kondisi ekonomi internasional yang tengah meredup.

Data ekonomi AS terkini, menunjukkan tingkat pengangguran AS telah turun, hingga ke posisi 5,1%. Sementara pertumbuhan ekonomi juga telah membaik dan menembus diatas 2%. Tingkat konsumsi masyarakat juga bergerak naik. Disisi lain, pertumbuhan ekonomi global masih mengkhawatirkan, Tiongkok masih melambat perekonomiannya. Hal ini dianggap bisa menyeret perlambatan ekonomi negara-negara berkembang pula. Pada akhirnya juga akan memberikan tekanan pada laju pertumbuhan inflasi AS.

Kenyataan ini, menurut Williams bisa dipahami, bagaimana inflasi masih rendah sementara lapangan kerja sudah membaik. Tentu saja ini akan mengarahkan pada sesuatu yang tidak beres terjadi dari luar. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, berbagai peristiwa ini akan memberikan efek yang tidak mengekalkan kondisi saat ini. Meskipun inflasi kembali mengecewakan, kebijakan moneter seharusnya tidak ikut melambat, imbuh Williams.

Jika kita akan berhenti dilampu merah, sebaiknya sudah melepas injakan gas agar bisa berhenti dengan baik. Awalan yang lebih dini untuk menaikkan suku bunga tentu akan lebih baik bagi mesin kita untuk berjalan lebih halus, lebih bersikap gradual untuk mencapai kondisi yang normal, urainya. Sebaliknya, Williams mengingatkan bahwa terlambat menaikkan suku bunga akan menjadi tekanan bagi perekonomian AS kedalam posisi menanjak yang curam ?dan menyisakan sedikit ruang untuk melakukan berbagai manuver.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/tidak-imbang-suku-bunga-as-didesak-naik-2015/