PT Rifan Financindo – JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) pengampunan pajak atau tax amnesty. Diyakini dengan adanya kebijakan tersebut akan mampu mendorong pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun ini.

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, di tengah kondisi IHSG yang tengah tertekan, tax amnesty bisa menjadi motor yang ampuh penggerak IHSG.

“Laju IHSG memang lesu saat ini. Butuh pengeboman, nah bom ini kuncinya di tax amnesty,” tuturnya saat dihubungi Okezone.

Menurut Kiswoyo dengan melihat kondisi perekonomian saat ini, para investor cenderung tidak percaya pemerintah bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen. Oleh karena itu tax amnesty merupakan bentuk nyata untuk mengembalikan rasa optimisme para investor.

Kiswoyo menerangkan, jika dana repatriasi yang masuk lewat jalur pasar modal cukup besar, maka akan mendorong laju IHSG. Jika pergerakan IHSG membentuk rally tren penguatan, maka para investor yang ada akan terpengaruh untuk melakukan akumulasi beli.

“Kalau benar dijalankan dan benar duit masuk. Misalnya investor tidak percaya target pertumbuhan ekonomi, tentu dia tidak beli, lalu ketika tax amnety jalan duit masuk beli saham, IHSG naik. Nah mereka kaget akhirnya ikut beli. Itu bisa terjadi tapi harus ada bola salju, tax amnesty itu,” pungkasnya.

(mrt)

Sumber : Okezone

Kadin Tak Yakin Tax Amnesty Tembus Rp165 Triliun

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menargetkan raihan pendapatan dari program pengampunan pajak (Tax Amnesty) mencapai Rp165 triliun. Raihan pendapatan ini berasal dari dana repatriasi yang dibayarkan oleh para pengemplang pajak.

Namun, target ini diyakini tidak dapat tercapai. Bahkan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani mengungkapkan, perolehan dana ini hanya mencapai kurang dari Rp53 triliun.

“Kadin melihatnya dari pemerintah terlalu agresif ya. Target itu agak agresif. Declare ada tapi ya cukup agresif,” kata Rosan saat ditemui di Rumah Dinas Menko Perekonomian Darmin Nasution, Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Kamis (7/7/2016).

Menurut Rosan, nantinya akan lebih banyak para pengusaha yang mengikuti program deklarasi dibandingkan dengan program repatriasi dalam pelaksanaan program Tax Amnesty.

Hal inilah yang menyebabkan aliran dana menuju Indonesia diperkirakan tidak sebesar yang diharapkan oleh pemerintah. “Minatnya sih mereka akan declare ya. Jumlahnya berapa saya enggak tahu,” jelas Rosan.

“Kalau declare ya pasti declare, tapi kalau diharapkan dananya balik ke sini itu mungkin enggak bisa semuanya ya. Karena banyak aset juga di sana, banyak untuk properti atau investasi dalam bentuk perusahaan di sana, dan lainnya. Diharapkan kembali dalam bentuk cash agak sulit,” tutupnya.

(mrt)

Sumber : Okezone