PT Rifan Financindo – JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan hanya sebagai tempat untuk berjualan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Seiring berjalannya waktu, IHSG dipercayai juga sebagai cerminan kondisi ekonomi ke depan.

“IHSG itu kan gambaran ekonomi Indonesia enam bulan ke depan,” kata Analis Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, saat dihubungi Okezone.

Kiswoyo menjelaskan, yang menentukan fluktuasi IHSG yakni transaksi saham yang ada di pasar modal. Para investor pasti mempertimbangkan banyak hal terutama kondisi perekonomian sebelum membeli saham.

Namun sebaliknya, asumsi pertumbuhan ekonomi juga mempengaruhi pergerakan IHSG selama 6 bulan. Seperti dalam APBN-P 2016 yang telah disahkan terdapat target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen. Jika para investor percaya dengan target tersebut dan menambah portofolio investasinya, Kiswoyo yakin IHSG bisa tembus di atas 5.000.

“Karena pasar modal sangat erat kaitannya dengan sentimen. Kalau percaya mereka beli. Jadi IHSG dan pertumbuhan ekonomi ibarat ayam sama telur, siapa yang duluan jadi. Karena saling mempengaruhi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, jika melihat kondisi IHSG saat ini rasanya sulit pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus target yang ditetapkan dalam APBN-P 2016.

“Kenapa IHSG sulit tumbuh 6.000 karena pertumbuhan ekonomi kita sulit di atas 5 persen. kalau IHSG bertahan di atas 5.000 berarti pertumbuhan ekonomi kita bisa tembus di atas 5 persen. Tapi IHSG tidak turun dari level tengahnya 4.750, jaid kalau tidak turun lebih dari 4.750 berarti ekonomi kita tidak jelek,” pungkasnya.

Berikut ini asumsi dalam APBNP 2016 yang telah disahkan?:

– Pertumbuhan ekonomi: 5,2 persen

– Inflasi: 4 persen

– Nilai tukar: Rp13.500 per dolar Amerika Serikat

– Tingkat suku bunga SPN 3 bulan: 5,5 persen

– Harga minyak: USD40 per barel

– Lifting minyak: ?820 ribu barel per hari

– Lifting gas: ?1,15 juta barel setara minyak per hari

– Lifting minyak dan gas: 1,97 juta barel per hari.

(mrt)

Sumber : Okezone

Rupiah Bisa Menguat Asal Inflasi Tetap Rendah

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Asumsi nilai tukar Rupiah dalam APBNP 2016 telah dipatok sebesar Rp13.500 per USD. Menurut Bank Indonesia (BI), patokan kurs ini telah sesuai dengan keadaan ekonomi global dan domestik.

“Rp13.500 itu kan bukan target, tapi asumsi. Kurs pada intinya adalah cerminan dari fundamental ekonomi, situasi neraca pembayaran, ekspor impor barang dan jasa defisit atau surplus, situasi inflasi,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara saat ditemui di Rumah Dinas Menko Perekonomian Darmin Nasution, Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Kamis (7/7/2016).

Menurut Mirza, untuk menjaga kurs Rupiah agar tetap menguat, pemerintah perlu melakukan berbagai upaya untuk menahan laju inflasi. Namun, Mirza menegaskan bahwa inflasi yang terlalu rendah sehingga menyebabkan kurs terlalu menguat juga tidak terlalu baik bagi Indonesia. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi nilai ekspor dan impor setiap bulannya.

“Kalau mau kurs stabil atau menguat, kita harus usahakan inflasi tetap rendah, neraca perdagangan ekspor impor terus surplus, current account defisit terus surplus,” jelas Mirza.

“Kurs yang terlalu kuat membuat barang impor terasa murah, kemudian pedagang lebih senang impor dibanding produksi. Barang ekspor terasa mahal. Kurs lemah bisa membuat inflasi dari produk-produk impor menjadi lebih tinggi, utang luar negeri terlalu besar bebannya,” imbuh Mirza.

Untuk itu, asumsi kurs sebesar Rp13.500 per USD diyakini telah berada pada level tengah untuk menstabilkan neraca perdagangan Indonesia. Asumsi ini diyakini akan tercapai pada hingga akhir tahun 2016. “Jadi harus di level yang wajar, yang bisa mendorong ekspor manufaktur, mencegah impor yang berlebihan, dan tetap menjaga inflasi,” tutupnya.

(mrt)

Sumber : Okezone