PT Rifanfinancindo – JAKARTA ? Di tengah lesunya harga minyak sejak tahun lalu, para penyedia barang dan jasa industri migas berharap ada terobosan dari sistem perbankan nasional terkait fasilitas pendanaan.

Saat ini pendanaan dari bank nasional dirasa masih kurang kompetitif. ?Terobosan yang diharapkan antara lain berbentuk skema sinergi komersial antara industri migas dan perbankan,? ungkap Ketua Umum Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) Rudianto Rimbono dalam keterangan tertulis kemarin. Rudi mengatakan, dalam acara CEO Talk 3 dengan topik ?Sinergi Perbankan dengan Industri Migas? yang digelar IAFMI awal pekan ini, diakui bahwa fasilitas pendanaan dari bank nasional dirasa masih kurang kompetitif dibandingkan bank asing.

Tantangan yang dihadapi antara lain fasilitas cash loan dengan suku bunga yang lebih tinggi, antara 2-3 persen dibandingkan bank asing. Kemudianjaminankolateralyang tinggi sebesar 25-30 persen. Di sisi lain, sejak 2008 semua transaksi migas diwajibkan dilakukan melalui bank BUMN. Selain itu, terdapat dana ASR (abandonment and site restoration) yang telah terakumulasi di bank nasional. Hal ini dipandang sebagai fondasi untuk dapat mewujudkan skema sinergi komersial tersebut.

?Perlu ditelaah lebih lanjut peluang dan tata cara pemanfaatan dana ASR untuk industri hulu migas,? ujarnya. Dalam acara tersebut, Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kemenko Perekonomian Montty Girianna mengatakan, untuk menekan risiko di sektor migas, perlu dilihat peluang pengaplikasian skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) yang telah digunakan dalam proyek-proyek infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan tol, dan pelabuhan.

?Skema ini mengalokasikan risiko antara badan usaha (commercial risk) dan pemerintah (regulatory risk) dengan lebih tepat, sehingga komersialisasi proyek dapat dicapai,? tuturnya. Direktur Business Development Tripatra Raymond Naldi Rasfuldi di acara yang sama menyampaikan usulan terobosan permodalan dari bank seperti pemberian short term bridging financing dengan bunga yang kompetitif.

Di sisi lain, perlu adanya pemahaman yang sama antara bank dan pelaku usaha migas mengenai risiko sektoral melalui edukasi manajemen risiko yang meliputi seluruh rantai suplai. Diharapkan, dengan pemahaman yang lebih baik valuasi risiko pekerjaan proyek migas oleh perbankan juga menjadi lebih tepat sehingga dihasilkan formulasi kerja sama yang lebih menguntungkan para pihak.

Group Head Oil-Gas Energy Corporate Banking BRI Adhi Pratama menyampaikan, BRI sebagai salah satu bank BUMN yang ditunjuk pemerintah telah melakukan pemberian cash loan dan non-cash loan untuk KKKS, kontraktor, dan vendor dalam bentuk pre-financing, post-financing, dan customized financing. Dalam diskusi tersebut, IAFMI mencatat, penerapan skema supply chain financing pada industri ritel dan downstream oleh BRI dipandang layak untuk diperluas penerapannya di industri hulu migas.

(rzy)

Sumber : Okezone