PT Rifan Financindo – SEMARANG ? Wilayah Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah yang cukup potensial untuk menyerap dana tax amnesty, karena pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM) berkembang cukup pesat di daerah ini.

Bank BRI pun membidik UKM Jateng untuk berkontribusi dalam penyerapan dana tax amnesty (pengampunan pajak). BRI menargetkan sebesar 10-15 persen dari UKM Jateng ini. Secara nasional BRI mengincar penyerapan dana tax amnesty sebesar Rp50 triliun-60 triliun, sampai akhir diberlakukannya program tersebut. Direktur Human Capital dan Manajemen Aset BRI, Randi Anto mengatakan, jumlah UMKM (usaha mikro kecil menengah) di Provinsi Jateng sangat banyak.

Potensi tersebut kata dia, bukan karena pelaku UMKM tidak patuh melainkan belum tahu ada kewajiban seperti ini. ?Kami akan memberikan penjelasan melalui masing-masing kantor cabang ke – pada nasabahnya sehingga dari sisi deklarasi UMKM kami sangat berharap banyak,? ujarnya usai mengisi acara Business Gathering & Talkshow Tax Amnesty Bersama Nasabah Inti di Crowne Plaza Hotel Semarang.

Dia menjelaskan, sampai dengan 6 Agustus Bank BRI Tbk sudah berhasil menghimpun dana hasil tax amnesty mencapai Rp133 miliar, dari sekitar 855 nasabah di seluruh Indonesia, baik dari dana repatriasi maupun deklarasi. Dari total nasabah yang sudah memanfaatkan tax amnesty masih didominasi oleh deklarasi, sementara untuk repatriasi masih sangat kecil.

Menurutnya, sampai saat ini masih banyak wajib pajak yang wait and see atau lebih dulu melakukan perhitungan matang sebelum melapor. Diperkirakan lonjakan transaksi akan terjadi pada September 2016 saat batas akhir periode pertama, di mana biaya penebusan masih 2 persen. ?Kami berharap para wajib pajak, khususnya nasabah BRI, tidak melewatkan kesempatan langka dari tax amnesty . Apalagi pemerintah menetapkan program pengampunan pajak ini memiliki batas waktu cukup singkat,? katanya.

BRI telah menyediakan sejumlah produk yang bisa dimanfaatkan oleh wajib pajak mulai dari deposito berjangka, tabungan multi currency , obligasi, Medium Term Notes (MTN), Negotiable Certificate of Deposit (NCD), transaksi valuta asing, produk DPLK, bank assurance , reksa dana, jasa kustodian , dan jasa trustee . Dia menjelaskan, hingga akhir triwulan II atau 30 Juni 2016 tercatat performa bisnis Bank BRI tahun 2016 mengalami pertumbuhan cukup baik.

Tercatat aset mengalami pertumbuhan 16,8 persen year on year (yoy) menjadi Rp872,9 triliun, total penyaluran kredit sepanjang triwulan ini mencapai Rp590,7 triliun atau meningkat 17,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di level 2,3 persen untuk NPL gross dan 0,6 persen untuk NPL nett . Di sisi simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK), jumlah yang berhasil dihimpun sepanjang triwulan II tahun ini mencapai Rp656,1 triliun atau meningkat sebanyak 14,5 persen yoy.

Sementara itu, Fee Based In come (FBI) BRI juga menunjukkan kenaikan hingga double digit. Perolehan FBI di triwulan II tahun 2016 tercatat tumbuh sebesar 16,9 persen yoy atau mencapai Rp4,1 triliun, di mana fee yang berasal dari e-banking meningkat hingga 24,9 persen yoy atau menjadi sebesar Rp979 miliar. Kinerja positif dari kredit, simpanan atau DPK, dan FBI tersebut kemudian menghasilkan net profit atau laba (bank only ) sebesar Rp12,0 triliun.

Sementara itu, Pjs Pemimpin Wilayah BRI Semarang, Effendi Hidayat, menjelaskan, acara business gathering ini sekaligus wujud komitmen Bank BRI kepada nasabah untuk selalu memberikan informasi terbaru mengenai produk Bank BRI berkaitan dengan situasi makroekonomi domestik, global maupun kebijakan pemerintah.

?Acara business gathering merupakan rangkaian kegiatan yang tidak hanya dilakukan Bank BRI Kantor Wilayah Semarang, melainkan dilaksanakan secara nasional di 19 kantor wilayah Bank BRI di seluruh Indonesia dalam periode waktu yang hampir bersamaan untuk menunjang performa bisnis perusahaan,? katanya. (kmj)

(rhs)

Sumber : Okezone