Rifanfinancindo – PALEMBANG – Program pengampunan pajak atau tax amnesty telah berakhir setelah berlangsung selama sembilan bulan. Dana-dana tax amnesty ini pun telah memberikan dampak positif pada emiten-emiten perbankan Indonesia.

Pasalnya, sejak dilakukan semenjak Juli 2016, tax amnesty telah membawa banyak aliran dana segar ke sektor perbankan. Diperkirakan, dana repratiasi yang dihimpun dari tax amnesty menambah likuiditas sektor perbankan mencapai total Rp147 triliun.

Analis NH Korindo Securities Bima Setiaji memprediksi, dengan selesainya program tax amnesty maka sektor perbankan bakal kehilangan tambahan likuiditas. Akibatnya, diprediksi akan ada penurunan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) setelah tax amnesty.

“Dengan selesainya tax amnesty, maka aliran masuk dana segar ke perbankan berpotensi berkurang. Diestimasi pertumbuhan DPK di Kuartal II dan Kuartal III hanya single digit,” terangnya saat dihubungi Okezone.

Bima melanjutkan, dengan kondisi ini, maka akan memaksa bank untuk mengerek naik bunga deposito. “Karena hanya bersifat temporari sebelum akhirnya disalurkan ke instrumen investasi lainnya, maka dampak dana tax amnesty ke saham perbankan tidak akan lama signifikan,” kata dia.

Sekadar informasi, dana tebusan tax amnesty yang telah terkumpul mencapai 81,8% atau sebesar Rp135 triliun, berdasarkan Realisasi berdasarkan Surat Setoran Pajak (SSP). Angka tersebut, masih lebih rendah Rp30 triliun atau sekira 18,18% dari target Rp165 triliun.

Sementara untuk harta deklarasi, telah mencapai Rp4.855 triliun, yang didapat dari dalam negeri dan juga repatriasi. Deklarasi dalam dan luar negeri ini, telah melampaui target sebesar Rp4.000 triliun atau 121,37%.

(mrt)

Sumber : Okezone

Rifanfinancindo