PT Rifan Financindo – JAKARTA – Tangerang dan Bekasi masih menjadi daerah yang pertumbuhannya terus berkembang selain di Jakarta. Tercatat selama kuartal II-2016, sebanyak 354 proyek properti kondominium ditawarkan ke pasar.

Menurut Director Research and Advisory Cushman and Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengungkapkan, proyek tersebut didominasi oleh properti segmen menengah bawah sebesar 40,2 persen atau sekira 81.859 unit. (Baca juga: Tren Hunian Vertikal di Kawasan Industri)

“Diikuti kelas menengah 34,6 persen serta kelas menengah atas 14 persen dan kelas atas sebesar 11,1 persen,” ujar Arief, di Jakarta, Kamis (23/6/2016).

Aktivitas transaksi penjualan menurutnya, selama kuartal II-2016 juga masih didominasi oleh kelas tersebut. Tangerang dan Bekasi masih menjadi daerah yang mendominasi pasokan baru yang di mana masing-masing sebesar 27,4 persen dan 18,1 persen.

Berdasarkan harga, Cushman mencatat, segmen menengah bawah memiliki harga di bawah Rp14 juta per meter persegi, menengah di range harga Rp14 juta per meter persegi hingga Rp25 juta per meter persegi. (Baca juga: Dengan Rp2 Juta, PNS Bisa Beli Apartemen)

Sedangkan untuk menengah atas dikisaran Rp25 juta per meter persegi hingga 35 juta per meter persegi, dan segmen atas di atas Rp35 juta per meter persegi.

(rzk)

Sumber : Okezone

Jelang Referendum Inggris, Wall Street Tergelincir

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Wall Street tergelincir pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis WIB), karena investor fokus jelang referendum menentukan apakah Inggris tetap menjadi bagian di Uni Eropa atau tidak pada hari Kamis

Melansir Reuters, Jakarta, Kamis (23/6/2016), indeks Dow Jones Industrial Average turun 48,9 poin atau 0,27 persen ke 17.780.83, indeks S&P 500 turun 3,45 poin atau 0,17 persen ke 2.085.45 dan indeks Nasdaq Composite .IXIC turun 10,44 poin atau 0,22 persen ke 4.833.32.

Di awal perdagangan, saham mengalami kenaikan setelah data AS menunjukkan penjualan rumah naik pada bulan Mei tertinggi lebih dari sembilan tahun, menambah penjualan ritel dan data perdagangan internasional yang menggambarkan optimis ekonomi pada kuartal kedua.

Perhatian utama ditujukan mengenai referendum Inggris yang dilakukan Kamis. Sebuah jajak pendapat yang dipublikasikan pada hari Rabu menunjukkan data statistik bahwa pilihan meninggalkan Uni Eropa sebesar 45 persen atau hanya unggul 1 poin atau 44 persen yang memutuskan Inggris tetap di Uni Eropa

“Saya taruhan dengan Inggris akan keluar dari Uni Eropa, itulah indikator yang lebih baik,” kata Paul Zemsky, kepala investasi, Multi-Asset Strategi dan Solusi di Voya Investment Management di New York.

Dia mengatakan meskipun tidak ada sejumlah besar risiko, namun suara Brexit ini membuat saham AS berisiko.

“Revisi laba naik, harga minyak di sweet spot, penjualan ritel telah kuat, setelah Anda melewati acara unforecastable ini (referendum), orang akan menempatkan uang tunai untuk bekerja di pasar ekuitas AS,” kata Zemsky.

Investor juga terus mencermati pertemuan Ketua Federal Reserve Jannet Yellen pada hari kedua kepada Kongres. Dia mengulangi pidatonya hari Selasa, di mana ia mengecilkan risiko resesi, tetapi memperingatkan bahwa suara Inggris dan data pekerjaan serta perlambatan AS berpose risiko terhadap prospek ekonomi.

Indeks The CBOE Volatility. VIX ditutup pada 21,17, tertinggi dalam empat bulan, menunjukkan pedagang lebih bersedia untuk membayar untuk perlindungan terhadap penurunan S&P 500.

Sekitar 6,3 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata 6,8 miliar selama 20 sesi terakhir.

(dni)

Sumber : Okezone