PT Rifanfinancindo – BATAM – Pemerintah mematok nilai tukar Rupiah sebesar Rp13.500 per USD. Hanya saja, berbagai sentimen global masih mengancam nilai tukar Rupiah. Di antaranya adalah perlambatan ekonomi China hingga ketidakpastian the Fed dalam menaikkan suku bunga acuan.

Namun, Indonesia memiliki senjata khusus untuk menjaga nilai tukar Rupiah. Di antaranya adalah sektor pariwisata. Menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, dengan adanya bebas visa yang ditawarkan oleh pemerintah, maka akan dapat meningkatkan cadangan devisa sehingga berdampak pada menguatnya nilai tukar Rupiah.

“Rupiah dengan adanya bebas visa akan tambah devisa. Untuk itu subsektor dari maritim juga harus dikembangkan agar dapat mengembangkan sektor pariwisata,” ujarnya dalam kegiatan bincang santai di Harris Hotel, Batam (11/8/2016).

[Baca juga: Analisa Gubernur BI atas Rupiah yang Terus Menguat]

Potensi pada sektor pariwisata ini juga harus segera dimanfaatkan oleh pemerintah seiring dengan adanya program pengampunan pajak atau tax amnesty. Dengan begitu, maka nilai tukar Rupiah dapat stabil bahkan cenderung dapat menguat kembali.

“Kita lihat tax amnesty dampaknya cukup signifikan. IHSG saja sampai menyentuh 5.400. Momentum ini penting untuk pertumbuhan kita. Tapi jangan hanya masuk ke dalam sektor keuangan, harus dialirkan ke sektor lainnya seperti pariwisata juga sehingga nilai tukar Rupiah stabil,” tutupnya.

(rai)

Sumber : Okezone