PT Rifan Financindo – JAKARTA – Perusahaan nuklir Rusia Rosatom dan Dewan Pembangunan Berkelanjutan Nasional Kamboja memperkuat kerja sama di bidang energi nuklir termasuk mempelajari kegunaan atom untuk tujuan damai seperti pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir.

Pertemuan kedua pihak yang dilakukan pertengahan Agustus tersebut merupakan implementasi nota kesepahaman yang ditandatangani pada Mei 2016.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, Duta Besar Rusia untuk Kamboja Dmitry Tsvektov mengatakan Rusia dan Kamboja sedang aktif untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang termasuk ekonomi dan teknologi atom yang dinilai sebagai bidang kerja sama yang menjanjikan.

“Atom bisa menjadi landasan bagi pembangunan berkelanjutan di Kamboja, yakni di satu sisi, atom dapat memenuhi kebutuhan energi untuk ekonomi negara yang sedang berkembang, dan di sisi lain, atom juga menjadi sumber energi murni yang tetap akan menjaga kelestarian alam,” ujar Dubes Tsvektov.

Pertemuan tersebut membahas kemungkinan berbagai bentuk implementasi teknologi nuklir yang dapat mendukung pembangunan sosial-ekonomi di Kamboja, dengan prioritas utama pada peningkatan kesadaran masyarakat dan perbaikan kualitas tenaga kerja di bidang energi nuklir dan teknologi nuklir.

Menteri Lingkungan Hidup Kamboja yang juga Ketua Dewan Nasional Pembangunan Berkelanjutan Kamboja Say Samal menjelaskan, kerja sama dengan Rusia merupakan upaya Kamboja untuk memajukan sosio-ekonomi, memodernisasi ekonomi, dan meningkatkan ilmu pengetahuan serta mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam.

“Kami tertarik dengan teknologi nuklir karena pengaplikasiannya yang beragam pada bidang kesehatan, industri, agrikultur dan sektor-sektor lain dalam ekonomi,” kata dia lagi.

Dalam jangka panjang, menurut Say Samal, teknologi nuklir bisa memenuhi permintaan energi Kamboja yang terus meningkat.

Salah satu bidang kunci kerja sama Rusia-Kamboja dalam industri nuklir adalah penyebaran informasi tepercaya mengenai teknologi nuklir di masyarakat, dengan menetapkan proyek untuk membuat Pusat Informasi Energi Nuklir (Nuclear Energy Information Centre) di Kamboja.

Wakil Presiden Rosatom-Asia Tenggara Egor Simonov mengatakan pusat informasi tersebut merupakan platform komunikasi komprehensif yang akan memungkinkan masyarakat dari berbagai usia dan profesi untuk memahami dasar dari energi dan teknologi atom dengan metode yang interaktif.

“Rosatom telah membuat 17 pusat informasi yang serupa, termasuk di Vietnam, Bangladesh, dan Turki. Menurut data statistik, lebih dari 80 persen pengunjung mengubah pandangan mereka terhadap energi nuklir setelah mengunjungi pusat informasi ini,” kata dia.

Sebelumnya, pada Mei 2016, Rosatom dan Dewan Pembangunan Berkelanjutan Nasional Kerajaan Kamboja menandatangani dua nota kesepahaman, yakni Memorandum Pusat Informasi Energi Nuklir di Kamboja dan Memorandum Joint Working Group antara Kamboja dan Rusia dalam penggunaan energi atom untuk tujuan-tujuan damai.

Kedua dokumen itu ditandatangani oleh Sergey Kirienko dari pihak Rusia selaku CEO Rosatom dan Say Samal dari pihak Kamboja selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Ketua Dewan Nasional Pembangunan Berkelanjutan Kerajaan Kamboja.

Pertemuan itu disaksikan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen.

(rai)

Sumber : Okezone