RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih terus mengalami fluktuasi. Akhir pekan lalu, kurs Rupiah sempat menguat, walaupun ?belum mampu menembus level psikologis Rp 13.000 per USD. Menguatnya Rupiah seiring dengan pernyataan gubernur bank sentral AS, the Fed, yakni Janet Yellen soal kebijakan suku bunganya.

Pasca-penundaan kenaikan Fed Fund Rate atau suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed, Rupiah menguat cukup signifikan. Penguatan ini diperkirakan dapat menembus angka Rp 12.800.? Masih ada ruang sampai Rp 12.800 jika pemerintah melakukan upaya-upaya perbaikan di pasar valuta asing.? Penguatan Rupiah bisa jadi tidak berlangsung lama jika ada tekanan permintaan dolar yang meningkat. Namun, dirinya optimis jika pemerintah dapat membawa Rupiah ke level yang lebih baik.

Pemerintah perlu memastikan untuk perusahaan melakukan?hedging?(lindung nilai) jika melakukan utang luar negeri.? Penundaan kenaikan suku bunga The Fed, memang memberi angin segar bagi Rupiah. Untuk itu, pemerintah diminta memanfaatkan waktu tersebut dalam memperbaiki pasar uang di Indonesia.

Kepastian kenaikan Fed Fund Rate (FFR) atau suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) the Fed dinilai akan memberi dampak lebih baik bagi seluruh mata uang dunia. Sebab hal tersebut dapat memberi ketenangan bagi pelaku pasar.? Sebenarnya yang diharapkan adalah kepastian waktu kenaikan suku bunga oleh The Fed sehingga bisa memberikan ketenangan bagi pelaku pasar. Pihaknya malah berpendapat lebih cepat kenaikan tersebut akan lebih bagus bagi mata uang non dolar AS karena sudah ada kepastian.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/rupiah-diperkirakan-masih-fluktuatif-cenderung-menguat/