Rifan Financindo – JAKARTA – Kejatuhan tajam mata uang Britania Raya poundsterling (GBP) ke level terendah selama 3 dekade. Hal itu menciptakan volatility tajam atas sejumlah pasar modal.

Head Analis MNC Securities Edwin Sebayang menambahkan, lemahnya data upah buruh atau Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat pada September, tidak akan mampu memnpengaruhi The Fed untuk membatalkan niatnya menaikan suku bunga di akhir tahun.

“Karena hanya tercipta 156.000 pekerjaan baru (konsensus 175,000) dan naiknya unemployment rate kelevel 5 persen,” tuturnya dalam riset, Senin (10/10/2016).

Sementara sentimen dari Indonesa, merujuk pada pencapaian program tax amnesty di sisa waktu 82 hari lagi hingga akhir. Pencapaian tax amnesy hingga hari ke-102 tercatat, dana repatriasi masih sebesar Rp142 triliun, deklarasi luar negeri Rp979 triliun, deklarasi dalam negeri Rp2.690 triliun, tebusan murni Rp93,8 triliun, total tebusan Rp97,3 triliun dan total harta Rp3.812 triliun.

Berdasarkan pertimbangan itu, Edwin memprediksi laju IHSG masih sulit untuk keluar dari tekanan. “IHSG diperkirakan turun di kisaran 5.339 – 5.425,” tukasnya. (dng)

(rhs)

Sumber : Okezone

 

Riset Saham Asja Indosurya: IHSG Siap Kejar Resistance 5.488

Rifan Financindo – JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diyakini akan mampu berbalik arah menuju zona hijau. Terkoreksinya IHSG diperkirakan sudah mencapai batas bawah dan siap kembali melambung.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya memprediksi, laju IHSG hari ini akan berada pada level support 5.336 yang cukup kuat teruji, dengan target resistance berada pada level 5.488.

“5.488 merupakan resistance level yang perlu ditembus untuk dapat kembali memperkuat pola uptrend jangka pendek, hari ini IHSG berpotensi menguat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/10/2016).

William juga mengatakan, melemahnya IHSG pada beberapa hari perdagangan sebelumnya bisa menjadi momen bagi pelaku pasar untuk melakukan akumulasi pembelian.

“IHSG masih terus berada dalam rentang konsolidasi wajar, momentum koreksi dapat dimanfaatkan untuk melakukan aksi beli, kondisi pergerakan masih terlihat potensi penguatan yang cukup besar,” tukasnya. (dng)

(rhs)

Sumber : Okezone