Rifanfinancindo — Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis (5/7), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan harga dipicu oleh kenaikan pasokan minyak mentah AS yang di luar perkiraan.

Rifanfinancindo | Pasokan AS Melompat, Harga Minyak Dunia Melemah

Dilansir dari Reuters, Jumat (6/7), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,2 menjadi US$72,94 per barel. Sebelumnya, harga WTI sempat menembus US$75 per barel, level tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir.

Pelemahan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$0,85 menjadi US$77,39 per barel.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah Negeri Paman Sam meningkat 1,3 juta barel pekan lalu. Padahal, analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS merosot 3,5 juta barel.

“Anda akan berekspektasi banyak minyak mentah yang menuju kilang sekarang, sehingga kami memperkirakan ada penurunan (stok minyak mentah),” ujar Wakil Kepala Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Connecticut.

Kamis kemarin, harian The Wall Street Journal melaporkan bahwa persiapan perusahaan minyak Arab Saudi Saudi Aramco melantai di bursa saham dunia telah terhenti. Menurut Analis Calpital LLC John Kilduff, hal itu berpotensi mengurangi tekanan Arab Saudi untuk menjaga harga minyak di level atas.

Arab Saudi ingin menjual saham Saudi Aramco untuk mengundang investasi asing demi diversifikasi perekonomiannya. Namun, perhatian dari aspek legal di bursa saham London dan New York telah menimbulkan komplikasi.

Sementara, persediaan minyak mentah AS di hub pengiriman Cushing, Oklahoma, turun ke level terendahnya sejak Desember 2014 silam.

Berkurangnya stok di Cushing terjadi akibat berkurangnya pengiriman 360 ribu barel yang disebabkan oleh gangguan di fasilitas pasir minyak milik Syncrude di Kanada. Gangguan tersebut diperkirakan terjadi sepanjang Juli.

“Dengan terus berkurangnya persediaan di Cushing, AS sedang menuju situasi yang Anda bisa mulai pertimbangkan mendekati kekurangan pasokan,” terang Kilduff.

Laporan stok AS juga menunjukkan kenaikan pada impor minyak mentah AS yang cukup melegakan.

“Hal itu menunjukkan bahwa di tengah situasi Syncrude, tidak semuanya merugi,” kata Kilduff.

Harga minyak juga terdongkrak oleh pernyataan terakhir dari Presiden AS Donald Trump. Rabu lalu, waktu AS, Trump menuding Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengerek harga minyak dunia.

Sejak Januari 2017, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi minyak mentah demi menyeimbangkan pasar yang kala itu kelebihan pasokan. Bulan lalu, kelompok kartel tersebut sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar satu juga barel per hari (bph) untuk mengimbangi berkurangnya pasokan dari Venezuela dan Iran.

Para analis menilai bahwa harga minyak dunia juga mendapat dorongan dari keputusan AS untuk mengenakan sanksi kembali pada Iran, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC.

Sebelumnya, pemimpin Pengawal Revolusi Iran menyatakan bahwa Iran bakal memblokir pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, yang dilalui oleh sekitar 30 persen minyak yang dikirim melalui laut.

Dalam catatannya, Commerzbank Bank menilai pemblokiran di selat tersebut akan menimbulkan konsekuensi yang dramatis pada pasokan minyak global dan berefek terhadap harga yang hampir tidak bisa diperkirakan.

Di sisi lain, Komandan Militer Pusat AS menegaskan bahwa Angkatan Laut AS siap untuk menjamin kebebasan navigasi dan aliran perdagangan.

Info Lowongan Kerja

Baca Juga :

Sumber: CNN Indonesia
Akb – rifanfinancindo

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | PUSAT Headunit.