https://awsimages.detik.net.id/visual/2018/01/24/a526860c-7f7f-49c1-99b5-e7c4dde1f2f0_169.png?w=715&q=90 - Rifanfinancindo Palembang

Foto : CNBC

Rifanfinancindo Palembang – Harga emas kembali menguat seiring dimulainya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang. Pelaku pasar memilih mengambil langkah preventif dengan bermain aman seraya menunggu hasil dari KTT tersebut.

Pada perdagangan hari Jumat (28/6/2019) pukul 10:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,95% ke posisi US$ 1.425,1/troy ounce. Sementara harga emas di pasar spot naik 0,88% menjadi US$ 1.421,66/troy ounce.

Sehari sebelumnya, harga emas COMEX melemah 0,26%, sementara spot naik tipis 0,07%.

Pelaku pasar menilai nasib perekonomian global akan ditentukan dari hasil KTT G20. Salah satu agenda yang paling penting adalah pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Dua pimpinan negara dikabarkan akan mendiskusikan masalah terkait perang dagang yang telah berkecamuk sejak tahun lalu.

Kemarin, South China Morning Post mengatakan. bahwa AS dan China akan mengumumkan ‘gencatan senjata’ selepas Trump dan Xi bertemu, berdasarkan keterangan dari beberapa orang sumber yang mengetahui masalah tersebut. Bahkan seorang sumber mengatakan ‘gencatan senjata’ adalah syarat yang diberikan Xi jika Trump ingin bertemu dengannya.

Namun, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow menampik kabar tersebut. Menurutnya tidak ada syarat apapun sebelum berlangsungnya dialog Trump-Xi.

Memperkeruh suasana, Kudlow juga menyebut Trump sudah nyaman atas niatnya menaikkan tarif pada produk-produk impor asal China.

Trump juga sebelumnya mengatakan bahwa dirinya akan menaikkan bea impor apabila tidak ada kesepakatan apapun pada pertemuannya dengan Xi.

“Saya akan mengenakan tarif tambahan. tarif tambahan yang sangat substansial, jika itu [dialog] tidak berhasil, jika kami tidak membuat kesepakatan,” ujar Trump, mengutip Reuters.

Sebelumnya Trump sudah berkali-kali mengatakan akan mengenakan tarif 25% pada produk China senilai US$ 300 miliar yang sebelumnya bebas dari perang dagang.

Bila tarif tersebut benar berlaku, artinya akan ada produk China senilai lebih dari US$ 550 miliar yang dikenakan tarif 25%. Jumlah yang tidak sedikit.

Trump juga seringkali susah ditebak. Keputusan-keputusan mendadak tidak jarang diambil oleh Trump tanpa sinyal-sinyal apapun sebelumnya.

Daripada mengambil risiko yang begitu masif, wajar apabila pelaku pasar memilih main aman dengan mengalihkan asetnya pada instrumen pelindung nilai (hedging) seperti emas.

Pasalnya beberapa analis memperkirakan kondisi ekonomi global berisiko mengalami resesi bila sampai perang dagang tereskalasi sekali lagi.

“Peluang bahwa kita akan mengalami resesi global akan meningkat bila tidak ada penurunan ketegangan antara AS dan China,” kata Peter Boockvar, Chief Investment Strategist di Bleakly Advisory Group, dilansir dari CNBC International.

“(Jika perang dagang memanas) kami memperkirakan pertumbuhan global akan menjadi 75 basis poin lebih rendah dalam enam kuartal ke depan – seukuran dengan krisis di zona euro, anjloknya harga minyak pada pertengahan 1980an, dan krisis ‘Tequila’ di 1990an,” tulis Kepala Riset Ekonomi Global UBS Arend Kapteyn dalam sebuah catatan riset. (taa/tas)