PT Rifan Financindo – JAYAPURA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Papua mencatat, selama puasa Bulan Ramadhan hingga lebaran Idul Fitri, tekanan Inflasi di Papua tinggi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Provinsi Papua, Joko Supratikto menyebut, angka kenikan inflasi mencapai puncaknya saat lebaran yaitu sekitar 1.04 persen (mtm).

“Selama puasa dan lebaran, periode inflasi di Papua relatif tinggi. Saat puasa berkisar 0,75 persen (mtm), dan saat lebaran mencapai 1, 03 persen (mtm),” ungkap Joko, Kamis (30/6/2016).

Dikatakan, periode kenaikan inflasi Provinsi Papua bisa lebih tinggi dan diperkirakan sintetis naik akibat adanya tahun ajaran baru bagi pelajar maupun mahasiswa. Bank Indonesia mewanti-wanti berbagai bahan pokok berpotensi mengalami kenaikan, termasuk tarif angkutan transportasi Lebaran.

[Baca juga: BI Prediksi Inflasi Juni Terendah Selama Ramadan]

“Berbagai bahan pangan semisal bumbu, telur dan daging akan mengalami kenaikan inflasi, termasuk kita harus waspada kenaikan tarif transportasi lebaran,” kata Joko.

Meski begitu, ungkap Joko, ada dua faktor yang akan mampu menahan laju peningkatan inflasi di Papua, yakni potensi penyesuaian harga komoditas oleh pemerintah relatif minimal, dan harga minyak dunia cenderung turun, dan ekspektasi masyarakat yang relatif terjaga.

Pihaknya mengimbau pemerintah daerah untuk mengendalikan tekanan inflasi selama puasa dan lebaran.

“Kamu harapkan, pemerintah dan lembaga terkait dapat menekan angka kenaikan inflasi dimaksud, dengan seringnya diadakan pasar murah, operasi pasar atau sidak selama puasa dan jelang lebaran,” katanya.

(wdi)

Sumber : Okezone