PT Rifan Financindo – JAKARTA – PT PP (Persero) Tbk masih menyisakan dana hasil penawaran umum saham perdana (IPO) sebesar Rp200,259 miliar per 30 Juni 2016, yang disimpan dalam bentuk deposito.

Disebutkan, deposito tersebut terdapat di Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia. Pada Januari 2010, PTPP melakukan IPO yang menghasilkan dana sebesar Rp566,06 miliar (setelah dikurangi biaya penawaran umum Rp15,763 miliar). Artinya, perseroan baru menyerap sekitar 35,37 persen dana hasil IPO tersebut.

Adapun rencana penggunaan dana menurut RUPS 15 Juni 2011, dana hasil IPO untuk melakukan penyertaan saham pada perusahaan JV yang akan dibentuk dalam rangka pembangunan proyek pembangkit listrik sekitar 47 persen atau senilai Rp266,05 miliar, penyertaan saham pada anak perusahaan di bidang properti dan realty sebesar 12 persen atau Rp67,92 miliar, serta modal kerja perseroan Rp232,08 miliar.

Namun, dana hasil IPO yang telah direalisasikan baru sekitar Rp365,80 miliar. Dana tersebut digunakan untuk melakukan penyertaan saham pada perusahaan joint venture (JV) yang akan dibentuk dalam rangka pembangunan proyek pembangkit listrik sekitar 12 persen atau Rp65,79 miliar. Lalu, penyertaan saham pada anak perusahaan bidang usaha properti dan realty sekitar 12 persen atau Rp67,92 miliar, dan modal kerja perseroan Rp232,08 miliar.

Pada pekan kedua di bulan Juni 2016, PTPP mengantongi kontrak baru Rp10,8 triliun. Pencapaian kontrak baru tersebut terdiri dari kontrak baru induk perseroan sebesar Rp8,88 triliun dan anak perusahaan Rp1,95 triliun. Direktur Keuangan PTPP, Agus Purbianto pernah mengatakan, perseroan telah berhasil meraih kontrak baru sampai dengan minggu kedua Juni 2016 mencapai 35 persen dari total target yang ditetapkan perseroan sepanjang tahun ini yaitu Rp31 triliun.

Kontrak baru yang berasal dari anak perusahaan antara lain PT PP Properti Tbk. Sebesar Rp890 miliar, PT PP Pracetak Rp873 miliar dan PT PP Peralatan Rp317 miliar. Proyek yang diperoleh induk perusahaan antara lain proyek jalan tol Pandaan-Malang Rp3 triliun, pembangunan Gedung BNI Tower senilai Rp719 miliar, apartemen Pertamina RU di Balikpapan Rp497 miliar, mobile power plant Rp447 miliar, Hotel Avani di Bali Rp335 miliar.

Selain itu, kontrak baru berasal dari proyek Setiabudi Residence di Medan Rp282 miliar, Lotte Villa di Tangerang Rp256 miliar, peningkatan air bersih Angkasa Pura II di Tangerang Rp253 miliar, Transmart di Depok Rp247 miliar, Sahid Hotel di Timika Rp225 miliar, proyek Bank Indonesia di Jayapura Rp188 miliar, Transmart Bintaro Rp189 miliar dan sebagainya.

Tahun ini, perseroan menganggarkan dana belanja modal atau “capital expenditure” sebesar Rp2,8 triliun. Untuk menutupi kebutuhan capex itu, perseroan akan menggunakan dana kas internal. Selain itu, rencananya perseroan sedang mengkaji penggalangan dana melalui dua instrumen, yaitu pinjaman perbankan dan penerbitan surat utang atau obligasi.

(mrt)

Sumber : Okezone