RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Emiten properti PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) membukukan penurunan pendapatan dari sektor properti hingga 48,6% menjadi Rp595,5 miliar pada tahun lalu dari Rp1,15 triliun pada 2013.

Berdasarkan keterangan resmi perseroan, disebutkan pendapatan Surya Semesta pada tahun lalu secara keseluruhan turun 2,6% menjadi Rp4,46 triliun dibandingkan dengan setahun sebelumnya Rp4,58 triliun.

Unit Usaha jasa konstruksi SSIA melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) pada tahun buku 2014 membukukan pendapatan sebesar Rp3,31 triliun termasuk proyek dari internal grup SSIA. Perolehan tersebut sedikit melampaui target yaitu Rp3,28 triliun dan naik 10,3% dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp3,00 triliun.

Unit usaha properti, yang pendapatannya didominasi oleh sektor kawasan industri, yaitu dari penjualan lahan industri, maintenance fee, persewaan pergudangan dan komersial telah membukukan penghasilan total sebesar Rp595,5 miliar pada tahun buku 2014. Perolehan tersebut anjlok 48,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,15 triliun.

Unit usaha sektor kawasan industri membukukan penjualan lahan industri seluas 27,9 hektar pada 2014. Harga jual rata-rata US$127,8 per m2 dan meraih secara total senilai Rp433,3 miliar, dibandingkan dengan penjualan lahan industri pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp991,1 miliar.

Harga jual rata-rata lahan industri per m2 pada tahun lalu meningkat 24,2% dari periode 2013 yang harga jual rata-ratanya adalah US$102,9/m2.

Pada tahun buku 2014, kawasan industri mencatat marketing sales seluas 22,8 hektar. Harga jual rata-rata lahan industri naik 3,9% menjadi US$134,8 per m2 pada 2014 dari US$129,7 per m2 pada 2013. Data land backlog pada akhir Desember 2014 tercatat 44,5 hektar dengan harga jual US$123,0 per m2.

Catatan perkembangan dari lahan di Subang, Jawa Barat sampai dengan Maret 2015, SSIA telah melakukan pembebasan tanah seluas 180 hektar dari target yang akan dicapai tahun ini seluas 500 hektar

Di samping pendapatan dari kawasan industri, terjadi penurunan pada pendapatan sewa gedung perkantoran Graha Surya Internusa, karena sejak awal 2014 berhenti beroperasi.

Sementara itu pada 2015, SSIA merencanakan pembangunan kembali gedung perkantoran dengan new brand SSI Tower. Gedung perkantoran yang baru akan terdiri dari 39 lantai dengan rentable area seluas 80.000m2

Unit usaha perhotelan SSIA mencatat kenaikan pendapatan sebesar 7,9% menjadi Rp626,3 miliar pada tahun lalu dibandingkan pada 2013 yang tercatat sebesar Rp580,3 miliar.

Sebesar 75% dari total pendapatan unit usaha perhotelan SSIA, berasal dari operasional hotel Gran Melia Jakarta dan Melia Bali Hotel & Spa Resort, sementara 20% lagi merupakan pendapatan dari Banyan Tree Ungasan Resort.

Pada September SSIA, telah meluncurkan Batiqa Hotel & Apartments Karawang, sebagai tonggak sejarah baru yang berhasil mencatat tingkat hunian rata-rata 59,3% dan ARR Rp544.349 pada 2014.

Pada tahun ini, SSIA merencanakan untuk meluncurkan empat Batiqa Hotels yang berlokasi di Cirebon yang di luncurkan pada Maret 2105, Jababeka, Palembang dan Pekanbaru. Sementara pada tahun depan, SSIA merencanakan menambah dua hotel lagi yaitu di Lampung dan di kawasan Casablanca, Jakarta.

Pada Maret lalu, SSIA merambah bisnis online travel, melalui www.travelio.com, sebuah online travel yang menawarkan jasa booking kamar hotel dengan strategi baru.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/pt-surya-semesta-internusa-bukukan-penurunan-pendapatan-hingga-486/