PT Rifan Financindo — Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Senin (22/10), waktu Amerika Serikat (AS). Kenaikan harga minyak terjadi meskipun Arab Saudi akan mengerek produksinya demi mengimbangi berkurangnya pasokan global akibat penetapan sanksi AS terhadap Iran.

PT Rifan Financindo

Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Senin (22/10), waktu AS, meskipun Arab Saudi akan mengerek produksinya demi mengimbangi pasokan global. (REUTERS/Sergei Karpukhin).

Dilansir dari Reuters, Selasa (23/10), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember harga naik US$0,05 menjadi US$79,83 per barel. Kenaikan tipis juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,05 menjadi US$69,17 per berel. Selama sesi perdagangan WTi sempat tertekan ke level US$68,27 per barel, terendah sejak 14 September 2018.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih kepada kantor berita Rusia TASS menyatakan Arab Saudi tidak berniat untuk mengeluarkan kebijakan embargo kepada konsumen dari Negara Barat seperti yang dilakukan pada 1973. Namun, Arab ingin fokus mengerek produksi demi mengkompensasi berkurangnya pasokan dari negara lain seperti Iran.

Menurut Falih, Arab Saudi akan segera mengerek produksinya ke level 11 juta barel per hari dari posisinya saat ini, 10,7 juta bph. Disebutkan Falih, Arab Saudi kini memiliki kapasitas produksi hingga 12 juta bph.

“Harga minyak cukup diseimbangkan pada perdagangan hari ini meski Arab telah menyampaikan komitmen untuk meningkatkan produksi,” ujar Analis Energi Senior Interfax Energy Abhishek Kumar di London.

Kendati demikan, lanjut dia, belum diketahui secara pasti kenaikan produksi dari Arab Saudi itu akan cukup untuk mengkompensasi potensi hilangnya produksi dari Iran dan Venezuela.

Sementara, beberapa pembuat kebijakan di AS telah mengusulkan untuk mengenakan sanksi kepada Arab terkait kematian jurnalis Jamal Khashoggi. Menanggapi hal itu, Arab telah menyatakan bakal melakukan retaliasi dengan sanksi yang lebih berat apabila pengenaan sanksi itu diberlakukan AS.

“Ancaman terselubung menggunakan minyak sebagai senjata pada dasarnya mengikat kedua tangan AS. Para investor tengah memperhatikan dan menunggu babak selanjutnya sebelum menempatkan posisi masing-masing,” kata Analis Pasar Senior City Index Fiona Cincotta dalam catatannya.

Pada Juni lalu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyepakati untuk mengerek produksi demi mengimbangi potensi gangguan pada ekspor minyak Iran. Sekadar mengingatkan, pengenaan sanksi AS terhadap sektor perminyakan Iran bakal berlaku mulai 4 November 2018.

Sejumlah analis memperkirakan sanksi tersebut bakal menggerus pasokan minyak sebesar 1,5 juta bph dari Iran.

Namun, OPEC kesulitan untuk menambah produksi mengingat kenaikan produksi Arab tak mampu mengimbangi hilangnya pasokan dari negara lain, termasuk Iran dan Venezuela.

Dari sisi permintaan, proyeksi permintaan minyak mentah tahun depan cenderung menurun. OPEC memperkirakan permintaan minyak mentah akan merosot dari rata-rata 32,8 juta tahun ini ke kisaran 31,8 juta bph pada 2019.(sfr/bir)

Baca Juga :