PT Rifan Financindo– Harga minyak dunia merosot sepanjang pekan lalu, dipicu oleh kenaikan pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) secara signifikan, ditambah pernyataan Badan Energi Internasional (IEA) terkait pasokan minyak mentah dunia yang mencukupi.

PT Rifan Financindo - pipapipaDilansir dari Reuters, proyeksi melemahnya permintaan minyak dunia juga disebut-sebut menekan harga minyak.

Harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (12/10), ditutup di level $79,70 per barel. Padahal, pada hari yang sama pekan sebelumnya, harga Brent masih bertengger di level US$84,16 persen.

Pelemahan harga minyak juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) menjadi US$70,95 per barel, dari sebelumnya US$74,34 per barel.

Kedua harga acuan secara mingguan merosot untuk pertama kalinya dalam lima pekan terakhir.

Dalam laporan bulanannya, IEA menyatakan pasokan pasar terlihat mencukupi untuk saat ini. IEA juga memangkas proyeksi permintaan minyak mentah untuk 2018 dan 2019.

“(Pelemahan permintaan) ini akibat proyeksi pelemahan pertumbuhan ekonomi, kekhawatiran terhadap perdagangan, serta revisi dari data ekonomi China,” ujar IEA, badan yang memberi rekomendasi kepada pelaku industri di bidang energi.

Partner Again Capital Management John Kilduff menilai proyeksi permintaan yang melemah mengerek sentimen kenaikan harga di pasar. Namun, masih ada potensi terjadi defisit pasokan menjelang akhir tahun.

“Proyeksi permintaan merosot saat ini, secara khusus, karena kondisi AS dengan China,” ujar Kilduff di New York.

Sebelumnya, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga telah memberikan proyeksi serupa dengan IEA pada Kamis (11/10) lalu.

“Bel yang menekan harga minyak tengah berdering untuk keseimbangan pasar minyak tahun depan seiring pelaku pasar yang bersiap untuk menghadapi kembalinya surplus pasokan,” ujar broker PVM Stephen Brennock.

Di awal sesi perdagangan Jumat lalu, harga minyak mentah sempat menanjak akibat penguatan di pasar saham yang mencatat kenaikan harian terbesar hampir dalam sebulan terakhir. Penurunan pasar saham di tengah sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang meluas di kalangan investor telah menekan pasar saham pada Kamis lalu.

Sementara itu, penurunan produksi minyak AS telah menopang tingkat harga. Di Teluk Meksiko AS, perusahaan minyak sempat memangkas produksinya sebesar 40 persen akibat terjangan Badai Michael. Sebagian telah kembali beroperasi.

Badan Michael telah mencapai Florida pada Rabu lalu dan merupakan badai siklon tropis terkuat ketiga yang pernah menerjang daratan AS. (sfr)

Baca Juga :