PT Rifan Financindo — Harga minyak mentah dunia naik lebih dari satu persen pada perdagangan Kamis (25/10), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi seiring pulihnya indeks pasar saham Wall Street. Selain itu, harga juga mendapatkan sokongan dari pernyataan Arab Saudi terkait sejumlah produsen minyak dunia kemungkinan harus ikut mengintervensi di pasar minyak mentah.

PT Rifan Financindo | Harga Minyak Dunia Menguat Ditopang Pulihnya Wall Street

Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).

Dilansir dari Reuters, Jumat (26/10), harga minyak mentah Brent menguat US$0,72 menjadi US$76,89 per barel seiring kenaikan pasar modal AS di tengah kuatnya kinerja pendapatan perusahaan. Harga acuan global tersebut telah kehilangan hampir US$10 per barel sejak menembus level tertinggi pada 3 Oktober 2018 lalu.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate sebesar US$0,51 menjadi US$67,22 per barel.

“Kita (pasar) turun drastis akibat ide terkait permintaan global akan melambat,” ujar Wakil Kepala Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.

Menurut McGillian, dengan pasar modal yang menguat kekhawatiran akan melambatnya permintaan memudar.

Sebagai catatan, indeks industri Dow Jones naik 1,6 persen dan indeks acuan S&P juga menguat 1,8 persen. Padahal, sehari sebelumnya pasar saham AS mencatat penurunan terbesar sejak 2011.

Penguatan indeks saham terjadi seiring membaiknya kinerja perusahaan seperti Microsoft, Ford Motor Co dan Twitter yang mencatat performa baik pada pendapatan kuartal ketiga. Hal itu menepis khekhawatiran terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi akan berimbas pada permintaan minyak.

“Kembalinya pasar modal sudah pasti menyenangkan orang-orang yang ingin fokus pada sisi permintaan,” imbuh Analis Pasar Minyak Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih juga ikut mendongkrak harga. Ia menyebut kemungkinan perlu intervensi untuk mengurangi stok minyak setelah naik dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Kamis (25/10) kemarin, Gubernur Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dari Arab Saudi Adeeb Al-Aama menyatakan pasar minyak dapat mengalami kelebihan pasokan (oversupply) pada kuartal IV 2018.

“Pasar pada kuartal IV dalam beralih menuju situasi kelebihan pasokan seperti yang dibuktikan oleh kenaikan persediaan (minyak) selama beberapa pekan terakhir,” ujar al-Aama kepada Reuters.

Pasar keuangan telah dihantam oleh berbagai kekhawatiran, termasuk perang dagang AS-China, krisis di mata uang negara berkembang, kenaikan biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi, termasuk perhatian terhadap masalah ekonomi di Italia.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan pemulihan harga yang terjadi saat ini dapat berkelanjutan,” terang Analis Pasar CHS Hedging LLC Tony Headrick.

Menurut Headrick, pasar saat ini memperhatian perkembangan permintaan global dan perdagangan. Di sisi lain, pelaku pasar mengabaikan laporan yang menunjukkan kenaikan persediaan di Cushing, Oklahoma, yang merupakan hub pengiriman minyak mentah berjangka AS.

Berdasarkan catatan Genscape, stok minyak mentah di Cushing tercatat naik 1,8 juta barel dari pekan sebelumnya menjadi 33 juta barel pada Selasa (23/10) lalu. (sfr/bir)

Baca Juga :