CIREBON – PT Cirebon Energi Prasarana Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cirebon, Jawa Barat, mengklaim untuk pembangunan PLTU II yang berkapasitas 1000 megawatt akan menghasilkan emisi lebih sedikit dan teknologi yang digunakan adalah yang pertama di Indonesia.

“Kami pastikan untuk emisi yang dikeluarkan nantinya akan sedikit dan teknologi yang kita gunakan itu pertama di Indonesia,” kata President Director PT Cirebon Energi Prasarana Heru Dewanto di Cirebon, Kamis.

Ia menuturkan selain emisi yang dikeluarkan sedikit, penggunaan batu bara sebagai bahan bakarnya juga akan berkurang tidak seperti PLTU I dan ini merupakan upaya dari pihaknya dalam meminimalkan penggunaan batu bara.

Selain itu pihaknya juga mengusung “go grean” pada pembangunan PLTU II yang direncanakan akan menghasilkan daya 1000 megawatt itu.

“Intinya kami berupaya sebisa mungkin untuk meminimalkan emisi dan penggunaan batu bara yang belakangan ini menimbulkan pro kontra,” tuturnya.

[Baca juga: Presiden Harapkan PLTU Lontar Selesai 6 Bulan]

Menurutnya untuk beralih ke energi baru terbarukan perlu biaya yang tidak sedikit dan sampai saat ini energi batu bara lah yang paling termurah di antara semua energi yang ada.

Untuk itu, pihaknya masih akan menggunakan energi batu bara pada pembangunan PLTU II yang direncanakan mulai bulan depan akan memasuki tahap awal.

“Energi batu bara sekarang ini paling murah dari pada yang lainnya, untuk itu kami memilih ini, agar biaya juga tidak membengkak,” ujarnya.

Heru menambahkan saat ini pihak PLTU sudah mengerjakan sesuai apa yang menjadi standar pemerintah, untuk itu pihaknya yakin bahwa dalam pengoperasian PLTU sudah sesuai prosedur.

(rai)

Sumber : Okezone