RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.

Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. ?Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,? kata Deng kepada Bloomberg.

Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers? Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember? 2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.

Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.

PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.

Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. ?Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,? kata Nomura dalam risetnya.

Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.

Pertumbuhan 7,1%

Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. ?Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,? kata Standard Chartered dalam laporannya.

Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People?s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.

Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/pertumbuhan-ekonomi-tiongkok-kian-melambat/