RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Perekonomian dunia saat ini menghadapi masalah kekuatan (ekonomi). Melemahnya perekonomian di negara-negara berkembang, yang dipicu oleh jatuhnya harga-harga komoditi telah membuat International Monetary Fund terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia kembali menjadi hanya 3,1 persen saja, lebih rendah dari proyeksi IMF dibulan Juli sebesar 3,3 persen.

Tahun depan, diperkirakan perekonomian bisa bangkit dan tumbuh diangka 3,6 persen, meskipun ini juga lebih rendah dari perkiraan dibulan Juli yang diyakini masih bisa tumbuh hingga 3,8 persen. Menurut Kepala Ekonomi IMF Maurice Obstfeld, hanya angan-angan saja bila mengharapkan adanya cawan suci yang bisa menggabungkan dan mendorong berkembangnya perekonomian global, ujarnya pada Selasa (06/10) di Wahshington DC.

Enam tahun berlalu dunia mulai bangkit dari krisis keuangan dan resesi, masih saja gambaran yang ada belum cukuo besar, mencerminkan pemulihan yang masih berjalan dari Australia hingga Jerman. Brazil dan Rusia masih mengalami kontraksi ekonomi sementara Jepang dan Eropa berjuang untuk meyakinkan dunia. Tiongkok yang selama ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dunia juga mengalami penurunan. Sementara perekonomian AS sendiri masih belum cukup kuat untuk meyakinkan bank sentralnya guna menaikkan suku bunga utama.

Atas pertimbangan hal-hal itu, IMF menyarankan negara-negara berkembang untuk siap sedia dengan kebijakan moneter AS yang akan mulai diperkencang. IMF mendorong negara-negara maju untuk siap dengan warisan krisis dan menyarankan mereka untuk mendorong tumbuhnya investasi infrastruktur publik pada masa suku bunga rendah ini.

Pada minggu ini, ditengah-tengah agenda pertemuan tahunan IMF, kepala-kepala keuangan negara-negara maju dalam kelompok G20 juga akan melakukan pertemuan di Lima, Peru. ??Salah satu agenda pembicaraan berkenaan dengan laporan IMF atas munculnya resiko baru dalam perekonomian global. Menurut IMF, negara-negara berkembang akan mengalami depresiasi mata uang yang sangat tajam setelah The Fed menaikkan suku bunganya dan harga-harga minyak mentah dan logam juga akan turun. Dalam jangka pendek, Obstfeld menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global masih akan berlangsung moderat dengan kondisi resiko penurunan yang semakin kuat, sebagaimana tercermin dari proyeksi IMF antara Juli hingga kini, ujarnya.

IMF menilai pertumbuhan ekonomi Tiongkok di tahun ini tinggal 6,8 persen dan tahun depan sebesar 6,3 persen. Sayangnya, melambatnya perekonomian Tiongkok tersebut ternyat alebih besar dari perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan yang moderat akan terjadi di AS dan Inggris masih akan menghadapi ancaman deflasi lebih besar dibandingkan negara-negara kaya lainnya. Menurut data IMF, pertumbuhan ekonomi AS ?tahun ini diperkirakan sebesar 2,6 persen, lebih tinggi dari perkiraan bulan Juli sebesar 2,5 persen saja. Tahun depan, AS sebagai negara terbesar perekonomiannya akan tumbuh 2,8 persen, proyeksi ini juga lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dibulan Juli kemarin yang menganggap bisa tumbuh hingga 3 persen.

IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang, ditahun ini diperkirakan hanya akan tumbuh 0,6% dan 1 persen saja ditahun depan. Eropa?juga demikian, tahun ini diperkirakan akan tumbuh 1,5 persen saja dan tahun depan sebesar 1,6%.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/perekonomian-global-makin-surut-siap-siap-menerima-warisan-krisis/