JAKARTA – Arab Saudi akhirnya menarik utang pada perbankan, setelah adanya pelemahan pada harga minyak mentah. Pasalnya, pelemahan minyak mentah telah membuat pendapatan Arab Saudi terpangkas tajam.

Banyak perbankan, terutama dari bank-bank Asia, yang menyatakan minatnya untuk memberikan pinjaman meskipun Peringkat kredit Arab Saudi dipangkas oleh lembaga rating karena pelemahan harga minyak. Pemerintah Arab pun menaikkan pinjaman dari USD6-USD8 miliar menjadi USD10 miliar, setelah mengalami oversubscribed.

Melansir CNBC, Rabu (20/4/2016), pemberi pinjaman utama, masing-masing menjanjikan sekitar USD1,3 miliar, termasuk Bank of Tokyo-Mitsubishi, HSBC dan JPMorgan. Lender diminta untuk memberikan setidaknya USD500 juta guna berpartisipasi dalam peminjaman ini. Para bankir lain yang tahu kesepakatan ini mengatakan, pricing dari obligasi ini sekira 120 basis poin di atas US dollar Libor.

Ini merupakan pinjaman pertama Arab Saudi sejak 1991. Saat itu, Arab Saudi mencari pinjaman sebesar USD1 miliar setelah invasi Irak ke Kuwait. Para bankir pun yakin bahwa perusahaan BUMN Arab juga akan berusaha untuk mengumpulkan dana, menggunakan pinjaman dan obligasi negara sebagai patokan.

Pangeran Mohammed bin Salman, anak dari raja Arab yang sangat berpengaruh pada reformasi ekonomi negara tersebut, akan mempublikasikan visi Arab Saudi, yang akan mengalihkan pendapatan dari era minyak mentah.

Visi tersebut diharapkan memberikan rincian lebih lanjut tentang privatisasi perusahaan minyak negara Saudi Aramco, sumber kekayaan negara, dan dapat melakukan reformasi lainnya untuk meningkatkan lapangan kerja dan investasi.

(mrt)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/04/20/320/1367595/perbankan-asia-berebut-pinjami-dana-ke-arab-saudi