PT Rifan Financindo – JAKARTA – Banyaknya pendatang baru pemain semen di Indonesia, membuat pasar semen dalam negeri semakin sesak. Apalagi, produksi semen dalam negeri saat ini mengalami over suplai dibandingkan konsumsinya yang justru masih stagnan di semester pertama tahun ini. Kondisi ini memicu kinerja keuangan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga ikut terkoreksi.

Emiten produsen semen ini mencatat penurunan pendapatan bersih menjadi Rp7,74 triliun per semester I-2016. Angka itu turun 12,8 persen dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,87 triliun. Susutnya pendapatan disebabkan oleh penurunan harga rata-rata pada tahun ini sebesar 10,7 persen disertai lebih rendahnya volume penjualan domestik sebesar 3,7 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya.

Asal tahu saja, Indocement membukukan penurunan volume penjualan semen sebesar 2,3 persen dari posisi? 8,32 juta ton di semester I-2015 menjadi 8,12 juta ton di kuartal II-2016. Penurunan volume penjualan dirasakan domestik, dari 8,24 juta ton per Juni 2015 menjadi 7,93 juta ton per Juni 2016.

?Angkanya sama dengan terjadi ?penurunan 309 ribu ton bila dibanding raihan di periode yang sama 2015,”kata Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa, Christian Kartawijaya di Jakarta.

Selain itu, beban pokok pendapatan turun sebesar 7,7 persen dibanding semester I-2016, yakni dari Rp4,88 triliun menjadi Rp4,5 triliun. Hal itu seiring dengan lebih rendahnya volume penjualan dan pengelolaan biaya yang lebih baik. Saat kondisi pasar relatif lemah, perseroan fokus untuk menjual lebih banyak di pasar utamanya agar dapat mengelola margin yang lebih stabil.

Marjin laba kotor turun dari 45 persen menjadi 41,8 persen terutama disebabkan penurunan harga jual. Dari segi normal turun 19 persen dari Rp3,99 triliun menj?adi Rp3,23 triliun.

?Posisi laba periode berjalan mengalami kenaikan 5,2 persen, dari Rp2,30 triliun di kuartal II-2015 menjadi Rp2,42 triliun per Juni 2016. Kenaikan laba dipengaruhi oleh keikutsertaan perusaha?an dalam program revaluasi aset tetap pajak yang diprakarsai pemerintah,” ujar Christian Kartawijaya.

Sedangkan posisi margin EBITDA menurun dari 34,5 persen menjadi 31,8 persen di kuartal II-2016. Melihat situasi pasar yang lemah, diakui Christian, tentunya pencapaian mar?gin yang relatif stabil tersebut merupakan hasil usaha dan kerja keras Indocement dalam melakukan efisiensi biaya.

?Khususnya dalam pengurangan biaya-biaya tetap yang cukup signifikan, mengoperasikan klin yang paling efisien, dan mengutamakan pasokan ke pasar yang terdekat dengan pabrik dan terminal semen,” papar Christian.

Posisi total aset perseroan mengalami kenaikan yang tipis sebesar 0,5 persen, dari Rp27,63 triliun per Desember 2015 menjadi Rp27,78 triliun di semester I-2016. Terdiri dari posisi ekuitas sebesar Rp24,78 triliun, dan liabilitas sebesar Rp3,01 triliun. Perseroan juga telah membayar dividen pada Juni 2016 dengan jumlah sebesar Rp1,53 triliun, atau 3,51 persen dari rasio pembayaran dividen, turun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang porsinya mencapai 69,3 persen.

(dni)

Sumber : Okezone