ika kondisi ekonomi global membaik, neraca perdagangan diperkirakan akan tetap mengalami defisit hingga akhir tahun sebesar US$500 juta-US$600 juta.

Menteri Perdagangan M. Lutfi mengatakan membaiknya kondisi ekonomi dunia memang justru berkebalikan dengan kondisi ekonomi nasional karena mayoritas bahan baku dan bahan baku industri domestik disuplai lewat impor.

Jadi kalau membaik justu terjadi defisit. Kalau tidak ada perbaikan secara signifikan akan break event, plus atau minus 3%. Artinya bisa surplus atau defisit 3%.

Menurut Lutfi, dengan tidak dimungkinkan adanya perbaikan dari sisi manufaktur karena tantangan global, sisi impor tidak bisa ditekan tanpa mengganggu kondisi perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa mengesampingkan adanya komposisi 77% impor untuk bahan baku dan penolong tersebut. Artinya, penekanan impor akan memengaruhi kinerja ekspor.

Perbaikan neraca perdagangan tahun ini, akan terbantu dengan adanya ekspor dari Newmont dan Freeport yang sudah mulai bisa melakukan ekspor konsentrat tembaga dan emas yang diprediksi akan menyumbang US$3 miliar-US$4 miliar.

Di sisi lain, Lutfi menginginkan adanya terobosan di sisi kebijakan moneter yakni penurunan dosis pengetatan moneter yang hingga saat ini masih terjadi. Dengan langkah tersebut akan menggerakkan roda sektor riil yang berdampak positif pada neraca perdagangan.

Apalagi dengan kalau dengan melihat semuanya, inflasinya juga baik.

Seperti diketahui, seiring masih berlangsungnya pengetatan moneter, pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mencetak rekor tingkat inflasi terendah periode musiman Agustus, yang tahun ini sebesar 0,47%.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/neraca-perdagangan-akan-alami-defisit-sebesar-us600-juta/