NEW YORK – Harga minyak dunia turun pada Senin (Selasa pagi WIB), tertekan ekspektasi peningkatan produksi di Amerika Utara dan Afrika serta pertumbuhan permintaan global yang kurang antusias.

Meningkatnya ketidakpastian pilihan warga Inggris tentang keanggotaan negara itu di Uni Eropa minggu depan, serta keputusan suku bunga AS pada Rabu oleh unit kebijakan Federal Reserve, Komite Pasar Terbuka Federal (FOC), juga memicu sejumlah kehati-hatian di pasar minyak.

“Investor tampaknya telah mundur dari pembelian menjelang pertemuan FOMC minggu ini atau referendum Inggris tentang keanggotaan di Uni Eropa pada 23 Juni,” kata Tim Evans dari Citi Futures.

Patokan AS, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 19 sen menjadi menetap di USD48,88 per barel di New York Mercantile, sesi ketiga berturut-turut di merah.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus, acuan internasional, juga menumpahkan 19 sen, mengakhiri sesi di USD50,35 per barel.

?[Baca juga: Harga Minyak Dunia Kembali Jeblok 3%]

“Fakta bahwa kemungkinan Libia akhirnya mencapai tingkat stabilitas bahwa pemerintah yang didukung PBB akan mampu mengendalikan sebagian besar fasilitas-fasilitas ekspor minyak” adalah faktor yang membebani pasar,” kata Mike Lynch dari Strategic Energy and Economic Research.

Selain itu, ada tanda-tanda bahwa penghentian operasi yang tidak direncanakan di Nigeria mungkin akan berakhir setelah kelompok militan pada Minggu mendesak kelompok bersenjata lain, Delta Niger Avengers, untuk bergabung dalam negosiasi dengan pemerintah dan meletakkan senjata mereka.

Produksi minyak Kanada, yang turun sekitar 1,2 juta barel per hari selama puncak kebakaran hutan pada Mei, diperkirakan secara perlahan-lahan pulih kembali karena kebakaran berkurang.

Bagi Oliver Sloup dari iiTrader.com, banyak kegelisahan pasar karena laporan rig minyak dari Baker Hughes pada Jumat menunjukkan jumlah rig aktif AS naik untuk minggu kedua berturut-turut, menunjukkan ke kemungkinan produksi AS akan meningkat kembali.

“Kami melihat beberapa rig kembali beroperasi,” kata Sloup. “Tiga kali adalah sebuah tren. Jika kami terus melihat hal itu terjadi, Anda akan melihat harga-harga kehilangan momentum dan turun.” Sementara itu, laporan Juni dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mempertahankan perkiraan permintaan minyak global untuk tahun ini tidak berubah pada 94,18 juta barel per hari, naik 1,2 juta barel dari tahun lalu.

Tetapi OPEC meramalkan bahwa “kelebihan pasokan di pasar kemungkinan akan berkurang selama kuartal-kuartal mendatang.”

(rai)

Sumber : Okezone