RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak mentah berjangka ditutup melemah tajam hari Selasa (20/1) karena investor menimbang batch pandangan suram pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk berita bahwa perekonomian China tumbuh pada kecepatan yang paling lambat dalam beberapa dekade.

Selain itu, harga gas alam juga berada di bawah tekanan. Minyak mentah berjangka untuk pengiriman Februari turun sebanyak US $ 2,30 atau 4,7% menjadi berakhir pada $ 46,39 per barel. Minyak kembali merosot setelah menutup sesi Jumat dengan kenaikan mingguan.

Brent mentah untuk pengiriman bulan Maret juga merosot jatuh 85 sen atau 1,7% untuk menetap di $ 47,99 per barel.

Pasar AS ditutup pada hari Senin (19/1) untuk hari libur Martin Luther King Jr, tetapi dalam perdagangan elektronik, harga minyak mentah AS turun 2,4%. Menteri Perminyakan Iran, mengatakan bahwa negaranya bisa menahan minyak $ 25 per barel.

Bagi banyak importir minyak di luar AS, dorongan dari harga minyak yang lebih rendah diredam oleh depresiasi mata uang lokal terhadap dolar AS di saat komoditas denominasi dolar seperti minyak menjadi lebih mahal.

Harga gas alam untuk Februari NGG15, + 2,26% turun 30 sen, atau 9,6%, untuk menetap di $ 2,83 per juta British thermal unit.

Phil Flynn, analis energi senior di Futures Price Group mengatakan gas alam turun karena terjadi pemanasan di Midwest. Suhu di Chicago naik 49 derajat pada hari Minggu (18/1), 9 derajat di atas rata-rata.

Pada perdagangan energi lain, NYMEX untuk Februari turun 5 sen atau 3,7% untuk menetap di $ 1,31 per galon.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/minyak-mentah-terus-terpuruk/