RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Para pialang di bursa Emas nampaknya memilih bersabar menunggu hingga pengumuman data non farm payroll AS pada hari Jumat (04/09) ini. Setidaknya, hal ini memberikan arahan yang lebih jelas dalam menyikapi perkembangan ekonomi dan pasar saat ini, ditengah turbulensi pasar saham global.

Menyimak data volume perdagangan Emas dalam seminggu terakhir ini, terlihat bahwa volume perdagangannya dibawah rata-rata selama 30 hari perdagangan. Akhir Agustus menjadi titik balik volume perdagangan emas saat ini. Ini memberikan gambaran lebih kuat lagi bahwa pelaku pasar memang berada diluar arena. Menunggu dengan terus mengamati pergerakan pasar, hingga data non farm payroll dikeluarkan. Data ini dianggap cukup signifikan, mengingat besaran dampaknya terhadap keputusan yang akan diambil dalam pertemuan Bank Sentral AS di minggu-mingu selanjutnya.

Bagaimana tidak, para pejabat bank sentral sendiri juga mengamati kemajuan sektor tenaga kerja AS. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kesempatan, bahwa kondisi ekonomi akan menjadi penentu waktu untuk menaikkan suku bunga Bank Sentral AS. Jika memang The Federal Reserve menaikkan suku bunganya di tahun ini, maka ini merupakan yang pertama kalinya mereka lakukan selama hampir satu dasawarsa terakhir ini. Suku bunga AS yang naik menjadi pukulan bagi harga komoditi emas. Mengantisipasi kebijakan moneter yang ketat ini, harga emas bergerak lebih dulu dengan melangkah turun. Suku bunga yang tinggi akan menggurangi daya tarik emas sebagai aset investasi, mengingat sifat mereka yang tidak memberikan imbal hasil bunga sebagaimana aset investasi lainnya.

Fluktuasi harga emas makin menjadi-jadi pada bulan lalu, setelah perekonomian Tiongkok menunjukkan perlambatannya. Hal ini menimbulkan aksi jual yang besar di pasar saham global. Spekulasi baru muncul, The Federal Reserve bisa saja menunda untuk menaikkan suku bunga dengan kondisi terkini ini. Alhasil, harga emas seperti mendapat angin segar dan bergerak naik kembali. Kenaikan harga emas berlanjut dengan dukungan hasil berbagai jajak pendapat terbaru yang menunjukkan keyakinan berbagai pihak bahwa The Federal Reserve belum akan menaikkan suku bunga pada September ini. Mayoritas pasar menilai tahun ini suku bunga AS memang akan dinaikkan, tapi tidak dibulan September ini. Gubernur Bank Sentral AS wilayah New York, William C. Dudley baru-baru ini mengatakan bahwa gejolak pasar saham-dan keuangan memperlemah kemungkinan suku bunga akan dinaikkan pada September ini, sementara Wakil Gubernur Bank Sentral AS Stanley Fischer mengingatkan dan percaya bahwa laju inflasi masih akan naik. Komisi Pasar Bebas Bank Sentral atau The Federal Open Market Committee dari Bank Sentral AS akan mengadakan pertemuan pada 16-17 September ini.

Volume perdagangan emas dibulan Agustus ini berada dibawah rata-rata volume perdagangan selama 30 hari. Harga emas untuk kontrak bulan Desember ini diperdagangkan lebih murah 0,9% di harga $1,123.80 per ons di Comex ? New York.

Para pialang pada dasarnya juga pusing dengan kondisi ini. Banyak diantara mereka melihat bahwa suku bunga AS ini memang tidak akan dinaikkan September ini. Namun mereka juga masih belum yakin dan segera menindak lanjuti dengan melakukan aksi beli emas kembali. Salah satu sentimen adalah kegagalan harga emas menembus harga $1.150, per ons yang dianggap sebagai harga penting. Kepercayaan akan emas akan kembali jika harga tersebut akan tertembus, sebaliknya jika akan turun setidaknya mereka baru akan melakukan aksi beli saat harga emas dibawah ?$1.100 per ons kembali.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/menunggu-data-harga-emas-tergelincir-turun/