JAKARTA – Pemerintah terus mendorong adanya penerapan tax amnesty tahun ini, agar memberikan ruang bagi masyarakat yang masih lalai dalam membayar pajak. Pasalnya, tidak semua pengemplang pajak adalah perusahaan atau pribadi yang bermodal besar.

Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pengemplang pajak yang umum tidaklah selalu besar. Menurutnya masyarakat kelas menengah dan kecil juga ada yang termasuk dalam kategori ini.

“Pengusaha informal, akuntan independen dan arsitek itu kalau mau ngomong, dia masuk kategori pengemplang pajak juga kan? Cuma kita masih sebutnya lalai, masih halus dibanding yang besar itu,” kata dia di kediamannya, Jakarta (12/5/2016) semalam.

(Baca Juga: Tanpa Tax Amnesty, Penerimaan Negara Tak Dapat Tercapai)

Menurutnya, dengan adanya tax amnesty ini bukan hanya menyasar pada wajib pajak besar, tetapi juga menengah yang selama ini menghindari pajak.

Dirinya mengatakan, banyak pedagang-pedagang yang penghasilannya lebih besar daripada buruh, lalai membayar pajak. Hal ini terjadi lantaran mereka menganggap penghasilan mereka tidak menentu dan tidak mempunyai perusahaan.

“Tidak ada yang happy kalau disuruh bayar pajak. Yang besar takut, tapi yang kecil juga takut kalau-kalau dia kena, nah mereka ini hanya menunda masalah,” kata dia.

“Contohnya arsitek, dia kan dapat penghasilan jika ada pembangunan. Nah kalau pembangunan ini ditender, lalu dia mau ikut tender, dia enggak punya NPWP lalu dia pinjam, ini kan makin kompleks, kita makin sulit trace-nya,” jelas dia.

Bambang berharap dengan adanya tax amnesty ini dapat membangun basis pajak yang lebih riil. Dengan demikian, maka dapat diketahui potensi pajak yang dimiliki Indonesia tiap tahunnya.

(dni)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/05/13/20/1387189/menkeu-tidak-ada-yang-happy-bayar-pajak