Rifan Financindo – PALEMBANG – KETIKA logam mulia emas ditemukan, tidak perlu waktu lama bagi orang-orang untuk menyadari bahwa logam satu ini istimewa. Mulai dari zaman dahulu sudah banyak yang memanfaatkan emas, khususnya di bidang perdagangan dan dijadikan mata uang untuk jual beli.

Seiring perkembangan zaman, emas menjadi salah satu bentuk aset finansial yang banyak diminati investor. Meskipun begitu, ternyata tidak semua investor mengenal dengan baik tentang seluk-beluk emas itu sendiri. Akibatnya, emas sering disalahpahami perannya. Sebenarnya, apa yang perlu diketahui masyarakat mengenai emas?

1. Emas Bisa Dijadikan sebagai Alat Tukar

Dalam pasar bebas, emas bisa dianggap sebagai mata uang karena memiliki harga. Harga emas di pasar bebas berfluktuasi terhadap mata uang negara, seperti dolar, yen, atau euro. Emas memiliki kaitan yang erat dengan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dikarenakan emas sering kali diperdagangkan dengan menggunakan mata uang tersebut.

Karenanya, ada korelasi terbalik antara harga emas dan dolar AS. Adanya korelasi ini bisa dipertimbangkan ketika harga emas dinilai sebagai nilai tukar. Sama seperti halnya dengan seseorang yang dapat menukarkan dolar AS ke mata uang yen Jepang. Mata uang kertas juga bisa ditukarkan ke emas.

2. Harga Emas tergantung dari Supply dan Demand

Dalam beberapa analisis yang dilakukan Gold Anti-Trust Action Committee (GATA), mereka mengklaim bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada harga emas. GATA mencari tahu pertambahan permintaan emas untuk perhiasan serta industri dan permintaan emas untuk investasi, termasuk permintaan pembatalan hedging oleh perusahaan pertambangan.

GATA melakukan perbandingan total hasil tersebut dengan supply tahunan logam mulia emas (supply pertambangan, penjualan emas dari bank sentral). GATA melakukan analisis pasar emas dengan mempertimbangkan jumlah permintaan dan pengiriman yang memengaruhi pergerakan harga emas.

3. Tambang Emas dan Demand

Jika ditarik analisis ke belakang mana kala membandingkan jumlah produksi emas dengan total demand emas dari tahun 1972 hingga 2007, bisa dikatakan bahwa pada saat harga emas mengalami peningkatan, produksi emas sebenarnya tetap atau flat.

Hal ini terjadi disebabkan dua alasan utama. Pertama, selama terjadi tren harga emas yang turun, perusahaan tambang emas dipaksa untuk meningkatkan kualitas emas agar lebih tinggi. Dengan kata lain, perlu menambang porsi bijih dengan kualitas yang lebih baik. Pada saat harga emas mulai naik, aktivitas tambah akan diubah dengan menambang biji emas dengan kualitas yang lebih rendah.

Kedua, pada saat periode harga emas mengalami penurunan, biaya untuk kegiatan eksplorasi menurun. Jadi, saat harga emas meningkat, hanya akan ada sedikit perusahaan pertambangan yang akan beroperasi. Perusahaan tambang membutuhkan waktu paling tidak 7-10 tahun dari penemuan bijih untuk mulai melakukan kegiatan tambangnya.

4. Korelasi Demand Emas untuk Perhiasan dan Bank Sentral

Yang terjadi naiknya demand perhiasan berbarengan dengan naiknya harga emas. Kenyataannya, dari 1999 hingga 2000-an terjadi rekor permintaan perhiasan. Namun, bukannya menguat, pasar emas justru melemah.

Hal tersebut menjadi sebuah kondisi yang berlawanan karena biasanya dalam supply dan demand, permintaan yang tinggi akan menyebabkan harga naik. Ternyata hal tersebut disebabkan permintaan emas tersebut berasal dari bank-bank sentral dunia. Bank-bank sentral menyimpan emas sebagai cadangan moneter.

Baca juga:
40 Tahun Pasar Modal Diaktifkan Kembali, Simak Yuk Sejarahnya
Masih Muda tapi Ingin Mulai Usaha, Pilihan Bisnis Berikut Cocok untuk Anda

Hal-Hal Di Balik Meningkatnya Permintaan Emas untuk Cadangan Moneter

Dipilihnya emas sebagai cadangan moneter bukan tanpa sebab. Ada sejumlah hal kenapa terjadi peningkatan permintaan emas sebagai cadangan moneter.

1. Pemberlakuan Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter yang bisa mendorong demand emas, di antaranya tindakan bank-bank sentral yang menentukan ukuran dan tingkat pertumbuhan jumlah uang beredar, yang nantinya akan berdampak pada keputusan tingkat suku bunga.

2. Perubahan Nilai Mata Uang Dolar AS

Kemudian faktor lain yang bisa mendorong emas menjadi cadangan moneter adalah mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun dolar AS sendiri banyak digunakan sebagai cadangan moneter, ketika nilainya melemah, banyak investor yang lebih memilih emas karena dinilai lebih aman

3. Naik Turun Inflasi

Faktor ketiga adalah inflasi yang hampir bisa dipastikan naik setiap tahun. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang mencari cadangan moneter yang bisa memberikan keamanan. Karena alasan itulah, banyak yang memilih emas.

Hubungan antara Inflasi dan Emas

Untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan antara emas sebagai pelindung saat krisis, perlu diketahui terlebih dahulu hubungan antara emas dan inflasi. Inflasi sendiri bisa dikatakan sebagai fenomena di mana terjadi kenaikan harga-harga barang dan jasa di suatu wilayah secara terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Inflasi yang terjadi mengindikasikan bahwa nilai uang dari waktu ke waktu akan turun.

Seperti misalnya uang Rp100.000 pada beberapa tahun yang silam, bisa digunakan untuk membeli banyak barang dan keperluan. Namun, uang dengan nominal yang sama hanya cukup untuk membeli sedikit dari barang keperluan. Contohnya adalah dahulu uang Rp100.000 bisa membeli kurang lebih 25 kg beras, tetapi sekarang hanya bisa mendapatkan kurang lebih 10 kg beras.

Sebaliknya, bila uang Rp100.000 itu pada dua puluh tahun lalu dibelikan emas, bisa diperoleh sekitar 1 g. Kalau hari ini emas 1 g itu dijual lagi, kini harga emas per gram saja sudah lebih dari Rp500.000. Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa jika menyimpan kekayaan dalam bentuk uang, baik tunai maupun simpanan di bank, nilainya dari waktu ke waktu akan menurun termakan inflasi. Tidak seperti nilai emas yang cenderung meningkat.

Naiknya Pasti, tapi Waktunya yang Lama

Penelitian World Gold Council menunjukkan emas memiliki kemampuan yang lebih bagus dalam mempertahankan nilai dalam jangka panjang dibandingkan dengan komoditas lain. Harga emas juga relatif konstan pada level harga tinggi selama kurang lebih 50 tahun terakhir.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah harga emas membutuhkan jangka waktu yang cukup lama untuk bisa naik secara signifikan. Apabila membeli emas batangan hari ini dengan harapan agar tahun depan harganya naik, itu bisa jadi harapan yang sia-sia. Sebab dalam jangka waktu pendek, harga emas akan dipengaruhi faktor-faktor lain, seperti tingkat suku bunga yang berlaku dan kondisi perekonomian.

Sebagai contoh, pada saat kondisi nilai inflasi rendah dan suku bunga bank juga rendah atau negatif, harga emas bisa naik secara signifikan. Ini karena investasi dalam bentuk tabungan atau deposito bank menjadi kurang menarik. Masyarakat lebih memilih alternatif investasi berimbal hasil lebih baik. Dengan kata lain, hubungan antara harga emas dan inflasi tidak selalu searah.

Manfaat Menyimpan Emas sebagai Investasi

Ketika melihat kembali uraian di atas, emas banyak dijadikan investor sebagai bentuk investasi yang menjanjikan. Ada kalanya dalam beberapa kesempatan, seperti bencana atau chaos, emas bisa jadi tidak berharga lagi. Namun, di luar kejadian tersebut, beberapa manfaat bisa diambil dari menyimpan emas, di antaranya:

Jadi pilihan alternatif dalam mengamankan kekayaaan dalam kondisi politik dan ekonomi yang tak menentu.

Berfungsi sebagai aset pelindung (safe haven).

Digunakan sebagai diversifikasi portofolio investasi karena berbeda dengan deposito, saham, ataupun obligasi.

Pilihan Investasi yang Stabil dan Aman

Emas masih menjadi jenis investasi yang sangat baik bagi para investor. Sebab nilainya yang stabil dan aman di tengah kondisi krisis finansial yang mendera. Di luar kejadian yang tidak diinginkan seperti Gold Reserve Act 1934 atau kejadian luar biasa lain, emas masih menjadi aset finansial yang menarik di tengah keadaan ekonomi yang sedang memburuk.

(dnb)

Sumber : Okezone