PT Rifan Financindo – BITTUANG – Masjid Nurul Yaqin Bittuang, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan menjadi sebuah masjid Bhinneka Tunggal Ika, simbol toleransi dan keberagaman di Indonesia.

Sekilas Masjid Nurul Yaqin Bittuang terlihat sama dengan masjid pada umumnya. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 30×40 meter persegi (m2) dengan menarah setinggi 40 meter dan luas 14×20 m2 ini terletak di Kelurahan Bittuang, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja ini memiliki keunikan tersendiri, dikarenakan keunikan Masjid Nurul Yaqin Bittuang ini terletak pada sejarah pembangunan masjid yang diketuai oleh Yusuf Suppak yang merupakan tokoh masyarakat dari kalangan umat Kristen.

Simbol ke Bhinnekaan terlihat sangat kental di mana kepanitiaan pembangunan masjid ini dari berbagai golongan agama, yaitu dari agama Islam, Kristen Protestan, dan Khatolik. Serta berdiri di atas tanah wakaf dari panitia pembangunan yang beragama Kristiani.

Masjid yang mulai didirikan pada 1980 dengan anggaran Rp10,5 juta ini menjadi simbol kerukunan antar umat beragama di Kecamatan Bittuang pada khususnya, dan Tana Toraja pada umumnya karena pembangunan masjid yang dikerjakan secara swadaya dengan melibatkan seluruh masyarakat baik yang muslim maupun umat non muslim.

Masjid yang memiliki jamaah kurang lebih 400 jiwa ini melaksanakan aktivitas ibadah seperti masjid masjid pada umumnya. Seperti aktivitas sholat berjamaah dan buka puasa bersama pada bulan Ramadan.

Masjid Nurul Yaqin Bittuang ini terletak di sebelah Barat Makale pusat ibukota Kabupaten TanaToraja dengan jarak 36 km dari pusat kota Makale.

(rzy)

Sumber : Okezone

 

Industri Manufaktur Gagal Pulih Saat Ramadan

PT Rifan Financindo – JAKARTA – Pasca-krisis ekonomi tahun 1998 lalu, industri manufaktur hingga saat ini belum sepenuhnya pulih. Bahkan, dengan meningkatnya daya beli masyarakat saat Ramadan, hal ini tidak membuat penjualan sektor manufaktur bergeliat saat Ramadan.

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani, daya beli masyarakat memang mengalami peningkatan saat Ramadan. Namun, peningkatan ini hanya terjadi pada sektor konsumsi, bukan pada sektor manufaktur.

“Yang tumbuh ini consumers lah ya karena konsumen pada belanja walaupun tidak sebanyak tahun lalu. (Untuk industri manufaktur) selama belum puasa belum,” jelasnya.

Namun, Kadin mengapresiasi upaya pemerintah untuk meningkatkan penjualan sektor industri UMKM, khususnya industri manufaktur. Salah satunya adalah dengan menetapkan

tarif yang rendah untuk repatriasi dalam UU Tax Amnesty. Kebijakan ini diharapkan dapat kembali membuat industri manufaktur kembali menggeliat.

“Kalau UKM itu saya rasa 0,5 (persen) sudah bagus. Tarif keseluruhan sudah baik. Sudah acceptable lah oleh teman-teman pengusaha,” tutupnya

(mrt)

Sumber : Okezone