PT Rifanfinancindo – JAKARTA – Saat ini, PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) baru menyerap belanja modal sebesar Rp110 miliar dari target anggaran belanja sebesar Rp800 miliar.

Direktur Utama LSIP Benny Tjoeng mengatakan, belanja modal itu digunakan untuk kegiatan operasional perseroan dan ekspansi organik seperti menambah lahan tertanam. Tahun ini, LSIP menargetkan akan menambah sekitar 1.500 hektare lahan tertanam.

“Tetapi angka persisnya masih tergantung dengan kondisi di lapangan nanti,” ujarnya di Jakarta.

Saat ini, perseroan masih belum merilis kinerja Semester I 2016 karena masih dalam tahap audit. Dia mengakui, sektor perkebunan memang masih dalam tahap konsolidasi. “Memang pertumbuhannya masih negatif, seperti yang dialami perusahaan lain di sektor ini,” imbuhnya.

Hingga Kuartal I 2016, laba bersih LSIP menurun sebesar 67 persen menjadi Rp50,4 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih LSIP tercatat Rp153,03 miliar dengan marjin laba bersih sebesar 6,3 persen. Hal ini karena ada penurunan penjualan sebesar 9,5 persen dari Rp888,5 miliar menjadi Rp804 miliar. Penurunan itu disebabkan penurunan harga jual rerata untuk produk sawit dan karet.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan volume penjualan crude palm oil (CPO) meningkat 7,8 persen dari 87.356 ton menjadi 94.184 ton. Volume penjualan inti sawit juga meningkat 4,9 persen menjadi 22.593 ton dari sebelumnya 21.537 ton. Namun, penjualan produk karet turun 25,5 persen menjadi 2.397 ton dari sebelumnya 3.126 ton. Lalu, volume penjualan benih bibit kelapa sawit masih naik 23,8 persen menjadi sekitar 2 juta benih bibit dari sekitar 1,7 juta benih bibit.

Beban pokok penjualan berhasil ditekan tipis dari Rp656,59 miliar menjadi Rp642,67 miliar. Hal itu membuat laba bruto perseroan itu menurun 30,4 persen menjadi Rp161,3 miliar dari sebelumnya tercatat Rp231,87 miliar dengan margin laba bruto sebesar 20,1 persen. Sampai dengan Maret 2016, LSIP tercatat memiliki total aset sebesar Rp9,01 triliun atau meningkat 1,92 persen dibandingkan akhir tahun lalu yang tercatat Rp8,8 triliun.

(dni)

Sumber : Okezone