Rifanfinancindo – Palembang – Indonesia perlu memperkuat diplomasi dan komunikasi sektor kelapa sawit di tingkat global. Kelapa sawit tidak seperti tudingan yang selama ini gencar dilakukan banyak negara Eropa dan Amerika.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, meskipun berbagai riset ilmiah dan data sudah banyak menepis kampanye negatif tentang sawit, upaya yang terstruktur, sistematis, dan masif yang menghambat komoditas strategis Indonesia ini masih terus berlangsung.

“Kita perlu perkuat diplomasi dan komunikasi di level global. Dunia internasional harus lebih fair menilai kelapa sawit,” kata Joko Supriyono di hadapan sejumlah diplomat senior peserta program Sesparlu (Senior Diplomat Course) batch ke-57 di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) di Jakarta.

Joko memaparkan, salah satu kampanye negatif adalah terkait isu kehutanan seperti deforestasi, keanekaragaman hayati, serta tudingan industri sawit yang merambah lahan gambut hingga menyebabkan kebakaran hutan. Tudingan bahwa industri sawit penyebab kebakaran hutan itu, menurut Joko, tidak benar sama sekali.

Dia menunjukkan dokumentasi dan berita bahwa kebakaran hutan juga terjadi di negara lain, baik di Amerika maupun Eropa. Sementara itu, Dinna Wisnu, Associate Professor Universitas Atmajaya, sengaja mengundang pelaku industri sawit untuk berbagi informasi di hadapan para diplomat yang tengah mengikuti program Sesparlu.

“Andalan Indonesia kan sektor migas dan non-migas. Untuk non-migas yang paling tepat adalah industri kelapa sawit,” ujarnya.

Dinna menjelaskan, para diplomat perlu diberi wawasan tentang bagaimana komoditas strategis Indonesia ini menghadapi berbagai tekanan global. “Para diplomat tampak antusias dan mulai lebih terbuka wawasannya mengenai kelapa sawit,” katanya.

(kmj)

Sumber : Okezone

Rifanfinancindo