RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Baik Tiongkok maupun India merupakan puncak konsumen emas dunia. Kedua negara ini sama-sama memiliki emas dalam jumlah yang besar, dan juga memiliki permasalahan dengan emas pula. Tiongkok ingin meningkatkan nilai tawar mereka dalam perdagangan emas dunia, India ingin mengurangi impor emas yang membebani neraca anggaran mereka.

Tiongkok Perluas Jaminan Transaksi

Pihak Shanghai Gold Exchange, yang merupakan bursa fisik emas terbesar didunia, berencana akan memperluas jenis-jenis transaksi dari saat ini hanya untuk mata uang lokal, kepada perdagangan logam mulia, mata uang asing dan saham. Demikian pengumuman yang ada di halaman situs mereka pada hari Kamis (10/09). Tujuan perubahan ini adalah untuk meningkatkan layanan pasar.

Mulai tangal 29 September ini, para anggota pialang diijinkan untuk menggunakan batangan-batangan emas yang tersertifikasi sebagai Margin untuk membuka kontrak perdagangan, demikian penjelasan lebih lanjut. Aset-aset lain yang juga bisa dijadikan margin adalah Perak, Mata Uang Asing, Saham-saham dengan denominasi Yuan dan obligasi serta beberapa aset lainnya.

Tiongkok saat ini memang sedang meningkatkan daya kekuasaan mereka dalam pembentukan harga dibursa Emas, sebagai tantangan terhadap bursa London dan New York. The Shanghai Gold Exchange bekerja sama dengan CME Group Inc. mengenai pencatatan ganda dari kontrak-kontrak tersebut. Tahun lalu, pihak otoritas bursa telah mengijinkan para investor asing untuk berdagang emas disana.

Tujuan dilakukannya langkah ini adalah meningkatkan volume dan menarik lebih banyak investor dari berbagai pasar didunia. Perubahan ini juga memberikan kebebasan para anggota dari kewajiban membayar atas transaksi dengan jaminan emas hingga akhir Maret nanti.


India Luncurkan Aturan Simpanan dan Investasi Berbasis ?Emas

Sementara itu, India bersiap-siap untuk menjual Emas dengan basis obligasi dan menginjinkan perbankan untuk mengurangi perhiasan dan batangan-batangan emas ?mengganggur?, yang ada di rumah-rumah masyarakat dan kuil-kuil di India guna mengurangi ketergantungan impor emas.

Kabinet Perdana Menteri Narendra Modi pada Rabu kemarin telah setuju untuk melakukan rencana menguangkan emas dan menjual sovereign bonds ? obligasi dengan denominasi mata uang asing, oleh Bank Sentral India. Dalam pernyataan resmi pemerintah, sebagaimana sebelumnya pernah dikatakan oleh Menteri Keuangan Arun Jaitley pada Februari silam bahwa tujuan kebijakan ini agar India woo Indians away dari emas fisik.

Diperkirakan, setidaknya lebih dari 20 ribu ton emas batangan, lebih dari dua kali lipat yang dimilki oleh AS ada di India, didalam rumah-rumah penduduk atau tersebar di berbagai kuil-kuil, ungkap pemerintah. PM. Modi tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungan impor emas sebagai solusi jangka panjang setelah defisit neraca anggaran mereka melebar hingga mencapai puncaknya ditahun 2013 dan membuat nilai tukar Rupee anjlok hingga ke posisi terendah sepanjang masa.

Rencana menguangkan ini akan memberikan keleluasaan bagi masyarakat India untuk mendepositokan perhiasan-perhiasan emas mereka atau emas-emas batangan yang mereka miliki dan mendapatkan bunga simpanan. Sementara bagi perbankan, kebijakan ini akan memberikan kebebasanbagi mereka untuk menjual emas secara langsung kepada para pengrajin perhiasan, sehingga dengan semikian akan meningkatkan pasokan emas. Masa deposito juga bisa berlaku mulai dari setahun hingga 15 tahun, dimana suku bunga jangka pendek saat ini masih dibahas besarannya oleh para perbankan India sementara bunga simpanan jangka panjang akan diputuskan oleh pemerintah dengan konsultasi kepada bank sentral.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/langkah-tiongkok-dan-india-mengelola-masalah-emas/