PT Rifan Financindo – JAKARTA – Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) saat ini naik dari 2,7 persen di Desember 2015 menjadi 3 persen. Kenaikan NPL tersebut disebabkan buruknya penyaluran kredit di segmen korporasi.

Direktur Keuangan BNI, Rico Rizal Budidarmo, mengatakan saat ini NPL BNI masih berada di angka 3 persen. Pasalnya, ada korporasi yang mencatatkan NPL dari 1,5 persen menjadi 3,1 persen.

“Yang diberikan tiga atau empat tahun lalu ada satu nasabah. Trikomsel mendrive NPL kredit BNI di kuartal I menjadi 3 persen,” kata di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (4/8/2016).

Rizal menjelaskan, memang dari total penyaluran kredit BNI separuhnya disalurkan kepada segmen korporasi. Tercatat sepanjang semester I-2016 BNI menyalurkan kredit sebesar Rp357,22 triliun atau tumbuh 23,7 persen dibanding periode sebelumnya Rp288,72 triliun.

“Untuk korporasi memang mendominasi secara historis 50 persen korporasi. Kita sedang menambah segmen menengah, dan small terus menerus,” ujar dia.

Oleh karena itu, pihaknya akan lebih selektif dalam penyaluran kredit kepada korporasi. Sebab menurutnya, perusahaan sektor industri tambang saat ini juga cukup menyumbang NPL yang cukup tinggi.

“Kita meninggalkan kira-kira bisnisnya sedang mengalami penurunan dilihat indikator NPL yang tinggi yaitu bisnis industri tambang. Kita melakukan ekspansi yang aman perkebunan, konstruksi, ke tiga di electricity atau listrik?,” jelas dia.

Menurut Rico korporasi di sektor perkebunan masih memiliki prospek cerah, meskipun harga komoditas masih belum membaik. Sebab sektor perkebunan masih menjadi andalan industri nasional.

“Perkebunan di sawit, fokus ke debitur baru maupun lama yang kira-kira hanya memiliki top bisa kelapa sawit. Karena suka nggak suka primadona negara kita meskipun komoditas mengalami penurunan. Kemudian berkaitan pembangkit, terkait pembangunan power plan 350 ribu megawatt,” tambahnya.

(mrt – PT Rifan Financindo?)

Sumber : Okezone