PT Rifan Financindo – JAKARTA – Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, diproyeksi memberikan kontribusi minyak sebesar 74.000 barel per hari (bph) pada produksi minyak PT Pertamina (Persero) tahun depan.

Puncak produksi lapangan tersebut telah tercapai pada Maret 2016. ?Jadi, di Januari produksi belum selevel itu. Ini membuat produksi rata-rata tahunan 2016 sekitar 69.000 bph. Kita berharap masih bisa ditingkatkan, karena itu rata-rata tahunan. Jika misalnya 2017 kita asumsikan full Januari-Desember 165.000 bph, maka bagian PT Pertamina EP Cepu sekitar 74.000 bph,? ujar Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Adriansyah dalam keterangan tertulis kemarin.

Kontrak kerja sama blok yang diperkirakan memiliki cadangan 445 juta barel tersebut ditandatangani pada 17 September 2005. Pertamina EP Cepu, cucu usaha Pertamina bersama Mobil Cepu Limited, anak usaha ExxonMobil Corporation, memegang 45% hak partisipasi. Sisanya, 10% hak partisipasi dikuasai Badan Kerja Sama Blok Cepu (BKS). Menurut Adriansyah, langkah yang dilakukan saat ini adalah menjaga puncak produksi Lapangan Banyu Urip.

Pasalnya, puncak produksi akan menemui sejumlah tantangan, seperti plant shutdown untuk perawatan. Selain Lapangan Banyu Urip, kontraktor Blok Cepu juga tengah mengembangkan Lapangan Kedung Keris. Meski produksinya tidak sebesar Banyu Urip, Kedung Keris akan menjadi andalan untuk mengompensasi penurunan produksi alamiah Banyu Urip.

?Kita harapkan mulai on stream pada saat Banyu Urip decline kira-kira pada 2017 akhir atau di 2018. Tapi tidak begitu besar,? kata dia. Adriansyah menambahkan, berdasarkan rencana pengembangan (plan of development ) yang disetujui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), produksi Lapangan Kedung Keris sekitar 8.000 bph.

Pertamina EP Cepu juga mengembangkan Alas Tua West dan gas Banyu Urip. Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, Lapangan Banyu Urip sampai saat ini menjadi andalan bagi produksi migas, tidak hanya Pertamina namun juga untuk nasional. Bahkan untuk dua sampai tiga tahun ke depan, Banyu Urip masih jadi andalan. ?Karena memang cadangan terbesar ada di situ.

Namun secara teknis, setelah mencapai puncak produksi memang harus turun, alamiah itu,? kata dia. Komaidi mengatakan, untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi Lapangan Banyu Urip, bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti melalui enhanced oil recovery (EOR). Selain itu, bisa juga dilakukan melalui pengembangan di sekitar Banyu Urip.

(rai)

Sumber : Okezone