PT Rifan Financindo – PALEMBANG – Harga gas di dalam negeri dinilai belum kompetitif dengan rata-rata USD6 per mmbtu. Pemerintah pun berencana untuk melakukan impor gas dari Singapura, di mana harga jual sekira USD3,8 per mmbtu. Lantas apa alasan harga gas di dalam negeri masih terlihat mahal ?

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo mengatakan, harga gas di dalam negeri sifatnya masih kontrak dengan hitungan menggunakan harga minyak mentah. Maksudnya, ketika membeli di lapangan gas harganya dihitung sesuai dengan harga minyak mentah saat itu.

“Misalnya, kenapa sekarang PLN atau industri lain masih bayar mahal untuk beli gas di Arun. Karena saat Arus beli gas tahun lalu dan masih ada yang belum dipakai semua, harga tersebut tidak bisa dijual dengan harga pasar. Jadi itu berpotensi dia tidak bisa membeli,” ujarnya di Grand Diara Hotel Puncak, Bogor, Kamis (7/9/2017).

Kemudian, yang membuat harga gas di dalam negeri mahal juga dari investasi infrastruktur yang sudah tinggi. Di mana untuk membuat pipa dan regasifikasi butuh investasi besar.

Dari sisi niaga, kata Agus, lebih parah karena adanya tumpang tindih pengelolaan niagas gas antara Pertamina dalam hal ini Pertagas, PGN, PLN dan sekarang ada Pelindo III.

“Pelindo III ikut sediakan gas karena gas di Surabaya tidak cukup. Kemudian ada lagi di satu daerah sudah ada PGN, dibangun juga jaringan gas di lokasi itu. Itu kan mubazir,”ujarnya.

(rzk)

Sumber : Okezone

PT Rifan Financindo