RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Kabar buruk dalam hal ini adalah berkenaan dengan kondisi ekonomi, baik secara global maupun nasional yang akan menjadi berita baik bagi para investor dan pedagang emas. Bila sebuah kabar buruk mengenai kondisi ekonomi berhembus di pasar, para manajer investasi langsung sigap dan melakukan aksi beli. Mereka tidak segan-segan menaikkan jumlah posisi beli mereka dalam produk komoditi emas bahkan logam lainnya.

Selama tiga minggu terakhir, terjadi kenaikan jumlah akumulasi beli dalam komoditi emas. Ditengah isu kenaikan suku bunga, harga emas beringsut naik bahkan membuka harapan akan terjadinya rally harga dalam jangka pendek. Salah satu isu pendorong yang menjadi kabar baik ini adalah jatuhnya angka permintaan produksi pabrikan Jerman serta proyeksi perekonomian global yang diprediksi International Monetary Fund akan lebih rendah dari perkiraan dibulan Juli kemarin.

Harga emas di minggu lalu berakhir menguat dengan keyakinan bahwa The Federal Reserve akan menunda untuk menaikkan suku bunganya atas dasar kondisi pertumbuhan ekonomi yang masih meregang. Alhasil mendorong permintaan akan aset pengaman investasi seperti emas ini. Tak kurang dari 8 milyar dolar AS nilai investasi emas berkurang dalam bentuk ETP sepanjang bulan September, dimana harga emas saat-saat ini berada dikisaran harga terendah dalam enam tahun terakhir ini. Jatuhnya harga emas memang banyak terpapar isu kenaikan suku bunga The Federal Reserve yang sedianya akan dinaikkan tahun ini. Kondisi terkini membuat wacana baru muncul, bahwa bank sentral AS tersebut akan menunda untuk menaikkan suku bunga di tahun depan. Sesuatu yang akan membuat harga emas bisa naik kembali.

Beberapa investor cukup percaya diri dengan berbagai sentimen yang masih dini ini. Bagi mereka, harga emas belum tamat dan masih membuka peluang untuk meraup keuntungan dari berbaliknya harga emas saat ini. Berbalik dari keterpurukan selama beberapa tahun, menjadi harapan kehidupan baru.

Harga emas untuk kontrak bulan Desember naik 1,7% pada sepekan hingga 02 Oktober. Mencatat sebagai kenaikan yang beruntun sejak Agustus kemarin. Kenaikan ini sejalan dengan hasil naik indek Komoditi Bloomberg sebesar 3,5 %? dan indek MSCI All-Country World ?yang naik 4,4 %. ?Terkonfirmasi dari koreksi yang terjadi pada Dolar AS, dimana indek Dolar AS versi Bloomberg turun 1,4 %.

SUMBER : http://financeroll.co.id/news/kabar-buruk-yang-baik/