Rifan Financindo – PALEMBANG – LADIES, kamu pasti setuju dong kalau wanita modern harus cerdas dan mandiri? Apalagi di zaman sekarang kesempatan wanita untuk menjadi apapun yang diinginkan terbuka lebih lebar.

Mulai dari pilot hingga tentara, ibu rumah tangga yang berkaya di rumah atau direktur di kantor, wanita bebas memilih profesi mereka sehingga bisa mandiri finansial.

Sayangnya dalam urusan finansial, masih ada wanita yang merasa mandiri secara finansial bukan hal yang penting. Alasannya karena mereka masih bisa bergantung pada pria atau suami. Justru anggapan ini bisa membuat wanita terjebak dalam bencana finansial di masa depan.

“Ya sudahlah cari suami kaya saja”

Hari gini masih mimpi jadi Cinderella? Sah-sah saja sebenarnya. Toh dalam dunia nyata gadis biasa-biasa saja yang menikah dengan orang kaya atau pangeran sekalipun memang ada. Tapi coba kamu lihat, istri-istri miliarder seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, atau Pangeran William. Mereka adalah wanita-wanita cerdas dan terpelajar.

Istri Bill, Melinda, merupakan sarjana ilmu komputer dan ekonomi dari Duke University. Ia bergelar master bisnis dari unibersitas yang sama. Setelah lulus, Melinda langsung bekerja di Microsoft dan banyak terlibat dalam banyak proyek besar.

Istri Mark, Priscilla, meraih sarjana di bidang biologi dari Harvard pada 2007. Ia kemudian kembali kuliah di jurusan kedokteran Universitas California San Francisco pada 2008. Lulus empat tahun kemudian, Priscilla menamatkan program magang sebagai dokter anak. Sejak kecil Priscilla sudah dijuluki jenius oleh teman-temannya.

Dapat disimpulkan kalau rata-rata mereka yang mendapatkan suami kaya memang memiliki kemampuan atau kecerdasan. Para pria kaya ini cenderung memilih wanita sederhana, namun memiliki kualitas dan berkepribadian.

Kenapa wanita wajib punya kecerdasan? Ketika sang suami jatuh bangkrut atau ditinggalkan suaminya, wanita masih mampu mengelola kekayaan atau bisa berkarya untuk menghidupi keluarga. Kecerdasan juga diperlukan agar wanita bisa menjadi representasi yang baik ketika bergaul dengan kolega suami.

“Suami saja yang bekerja dan saya urus anak”

Mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus suami dan anak merupakan pekerjaan mulia. Tapi bukan berarti kamu berhenti berkarya. Ibu rumah tangga bisa tetap berbisnis kecil-kecilan, menjadi freelance writer, menjadi agen dropship, dan lain sebagainya.

Tujuannya, ketika suami di-PHK atau meninggal tiba-riba, ibu rumah tangga tetap bisa menghidupi keluarga karena sudah mandiri secara finansial.

“Pasangan saya setia kok”

Yakin pasanganmu setia? Kalau kamu mengikuti berita di dunia hiburan, kamu pasti sering mendengar rumah tangga selebriti yang harus berakhir karena hadirnya orang ketiga.

Wanita manapun pasti ingin pernikahannya langgeng. Tapi ketika perceraian harus terjadi tiba-tiba, dalam kondisi istri tidak punya penghasilan dan suami menolak menafkahi anak, bisa dibayangkan apa yang terjadi?

Oleh karenanya, wanita harus tetap mandiri, meskipun punya suami yang paling kaya sekalipun.

“Aku cantik kok, mana mungkin suami ninggalin”

Wanita A menikah dengan pria B yang kaya. Wanita A sangat cantik dan dengan kecantikannya itu dia merasa mendapatkan kesetiaan suaminya. Sebaliknya pria B bangga bisa mendapatkan wanita cantik karena ia kaya. Namun seiring berjalannya waktu, kecantikan A memudar. Sedangkan harta pria B terus bertambah.

Pria B pun selingkuh dan meninggalkan wanita A karena merasa bisa mendapatkan kecantikan wanita lain dengan hartanya. Namun menukar kecantikan dengan harga adalah pola pikir yang salah. Jika dilihat dari sisi untung rugi, pria B sebenarnya adalah pihak yang dirugikan.

Memang, dalam hal berjodoh jangan dipakai hukum untung rugi. Tapi sebagai renungan, kalau kamu dilahirkan sebagai wanita cantik, jangan berpikir semua dengan mudah kamu dapatkan. Kamu harus mandiri secara finansial untuk mengantisipasi hal-hal yang terjadi pada wanita A seperti cerita di atas.

“Cewek nggak usah pintar-pintar amat, nanti susah dapat pasangan”

Masa karena ingin cepat dapat jodoh, kamu rela jadi wanita yang tidak terlalu pintar? Memang, hingga saat ini masih banyak diyakini anggapan kalau pria harus lebih pintar dari wanita karena akan jadi kepala keluarga, karier pria harus lebih baik, atau pria harus lebih hebat. Patriarki sekali ya.

Tapi yakinlah kalau yang namanya jodoh itu menyesuaikan. Kalau kamunya pintar, berharaplah dapat jodoh yang juga pintar. Kalau ternyata kamu yang lebih pintar, kamu juga tidak rugi bukan?

(dnb)

Sumber : Okezone

Rifan Financindo