PT Rifan Financindo – JAKARTA – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan karet memiliki sejarah panjang di Indonesia. Bahkan, sudah melalui masa-masa yang panjang, jauh sebelum ditemukannya komoditi hasil bumi unggulan lainnya seperti rempah-rempah.

“Semua itu memang jauh sebelum pangan menjajah, kita sudah punya rempah-rempah yang namanya pala, kemudian cengkeh, bahkan negara kita dicari-cari letaknya oleh orang-orang Eropa berabad-abad yang lalu karena mereka mau mencari komoditi unggulan kita,” ucapnya saat memberikan sambutan dalam acara Rakernas Gapkindo di Fairmont Hotel, Jakarta, Kamis (25/8/2016).

Ironinya, satu per satu hasil bumi Indonesia yang pernah terjajah itu kemudian selalu mengalami masa-masa sulit pasang surut dan tidak ada jejaknya lagi secara berarti hingga saat ini. Hanya dapat ditemukan di beberapa wilayah tertentu Indonesia.

“Kalau kita pergi ke Ternate, Ambon, kita masih melihat pohon pala. Di Sulawesi ada cengkih, tetapi dia tidak begitu berpengaruh lagi di dalam bangun kesejahteraan masyarakat kita,” katanya.

Padahal, karet menjadi salah satu hasil bumi yang menyangkut rakyat banyak, bahkan menyangkut hidup jutaan orang. “Di kalangan produk-produk perkebunan, ada beberapa hasil bumi yang dominan produsen rakyat. Kalau teh, kopi itu rakyat. Karet juga rakyat, dan seterusnya,” pungkasnya.

(mrt, PT Rifan Financindo)

Sumber : Okezone

 

Right Issue, Medco Energi Cari Tambahan Dana Rp1,94 Triliun

PT Rifan Financindo – JAKARTA – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berencana melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu kepada para pemegang saham Perseroan atau yang dikenal dengan right issue.

Melansir keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan, Kamis (25/8/2016), right issue yang diterbitkan sebanyak-banyaknya 1.306.618.100 saham dengan nilai nominal Rp100. Diperkirakan, perseroan akan memperoleh dana tambahan sebesar maksimum Rp1,94 triliun

Dana tersebut, akan digunakan sekira 70 persen untuk pembayaran utang yang akan jatuh tempo dan sekira 30 persen akan digunakan untuk belanja modal, termasuk belanja modal yang muncul dari akuisisi aset di masa yang akan datang.

Dengan dilaksanakannya penambahan modal melalui right issue tersebut, maka saham perseroan akan terdilusi sebesar maksimum 27 persen.

Sekadar informasi, penambahan modal akan dilakukan sesuai dengan keperluan permodalan Perseroan. Sesuai dengan ketentuan Pasal 8 ayat (3) POJK 32, jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPSLB sehubungan dengan Penambahan Modal dengan HMETD.

(mrt)

Sumber : Okezone