Siapa bilang Indonesia tidak bisa secanggih Jepang, Korea Selatan, dan Amerika dalam bidang gadget? Dengan anak pribumi yang pintar dan berprestasi ditambah dengan fasilitas yang mendukung nyatanya Indonesia juga bisa menghasilkan ponsel mutakhir sendiri. Bahkan ponsel ini sudah berupa telepon pintar atau smartphone yang berbasis jaringan 4G.

Meski belum banyak beredar dan bisa dinikmati secara komersial di tanah air, tapi ada dua perusahaan dalam negeri yang akan mewujudkannya sebentar lagi. PT. Sat Nusapersada Tbk (PTSN) dan PT. Tata Sarana Mandiri (TSM) lah perusahaan tersebut yang bekerjasama dalam menyiapkan smartphone 4G dimana PTSN yang bergerak di bidang manufaktur, sedangkan TSM yang mendesain. Mereka juga melakukan kolaborasi dengan Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Unggulan Inovasi BWA ITB dalam proyeknya.

SPESIFIKASI

Kustomisasi perangkat lunak (software), operating system (OS), desain user interface, desain produk, hingga desain tata letak sirkuit (PCB) semua digarap oleh orang Indonesia. Sedangkan untuk OS masih ada kerjasama dengan salah satu perusahaan di Tiongkok yang disebabkan penggunaan OS Android yang belum dapat diproduksi di dalam negeri dan biayanya yang sangat mahal. Selain konektivitas 4G, ponsel yang dinamai Ivo itu didukung oleh prosesor Qualcomm Snapdragon 400 quad core dengan dapur pacu 1.2 GHz, RAM 1 GB, Storage 8 GB, kamera 8 MP, dan dual sim card yang didesain khusus untuk kebutuhan Indonesia. Smartphone 4G ini juga dapat bekerja pada berbagai frekuensi LTE lain seperti 1.800Mhz, 2.300Mhz, 2.600Mhz, termasuk frekuensi data 3G dan 2G, sehingga dapat beroperasi di berbagai negara.

Smartphone 4G yang untuk pertama kalinya diproduksi di dalam negeri ini memang cukup membanggakan. Namun sayang, 70% dari komponennya masih diimpor, karena adanya keterbatasan produksi komponen sehingga baru ada 30% bagian dari komponen lokal yang diantaranya adalah charger, tata letak sirkuit (PCB), kustomisasi perangkat lunak (software), earphone, dan casing. Sementara itu, komponen lainnya berasal dari Tiongkok dan Malaysia. Impor komponen terjadi karena pihak perusahaan mempertimbangkan kualitas dari smartphone itu sendiri. Komponen lokal masih memerlukan pengujian secara bertahap, sedangkan yang impor memang sudah teruji kualitasnya.

HARGA YANG DIBANDEROL

Kemunculannya di depan publik masih belum dipastikan kapan, tapi kemungkinan dalam waktu dekat. Mengenai harga yang dibanderol oleh PT Sat Nusapersada Tbk dan PT Tata Sarana Mandiri selaku produsen tidak akan melebihi Rp 2 juta per unitnya dengan pasar yang akan dituju adalah kalangan menengah dan sedikit ke atas. Mengingat teknologi yang dimiliki, tentunya harga yang ditawarkan tergolong murah bila dibandingkan dengan smartphone di kelasnya yang seharga Rp 5-7 juta.

Melihat spesifikasi yang terbilang mumpuni dengan harga relatif terjangkau, ponsel ini bisa menjadi solusi masyarakat yang membutuhkan smartphone untuk mendukung kegiatannya tapi pas di kantong mereka. Tak perlu terlalu termakan oleh gengsi untuk memakai produk buatan lokal yang sering dialami oleh orang Indonesia dan lebih senang memakai produk impor. Justru kitalah yang harusnya memakai kemudian memperkenalkannya ke mata dunia bahwa kita juga bisa bersaing dengan negara maju lainnya. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

SUMBER : www.pricearea.com