PT Rifan Financindo – JAKARTA – Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) berencana melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2017 atau awal 2018. Perseroan menargetkan perolehan dana segar sebesar Rp600 miliar.

?Kita menargetkan masuk ke dalam BUKU (bank umum kategori usaha) II yaitu bank bermodal inti Rp1-5 triliun setelah IPO. Target IPO Rp500-600 miliar. Kenapa kita IPO? Karena kita ingin terbuka dan transparan di samping mendapatkan modal,? kata Direktur Utama BKE Sasmaya Tuhuleley saat berkunjung ke Kantor Redaksi KORAN SINDO, Jakarta.

Sebelum IPO, Sasmaya mengatakan, pihaknya akan menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) sebesar Rp200 miliar.

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio /CAR) BKE ketika IPO. Dengan asumsi sub-debt tidak dihitung sebagai modal, maka CAR yang saat ini berkisar 14 persen bisa ikut menguat di kisaran 18-19 persen. ?Karena kita tumbuhnya cepat, makanya kita butuh kapital,? imbuhnya

Sasmaya menjelaskan, bank yang didirikan oleh Sumitro Djojohadikusumo 24 tahun silam itu tengah melakukan rebranding dari bank yang hanya fokus melayani pegawai negeri sipil (PNS) lewat koperasi menjadi bank yang fokus menggarap pegawai swasta. Selain itu, tahun ini BKE juga tengah fokus memperluas segmen kredit konsumer yang saat ini memiliki porsi 38 persen dari total kredit.

?Kita masih ada ruang untuk memperlebar segmen konsumer hingga 45 persen,? sambungnya.

Sepanjang semester I-2016 Sasmaya mengakui, aset dan laba bank yang masing-masing tumbuh 26,4 persen dan 135,4 persen secara tahunan menjadi Rp2,8 triliun dan Rp22 miliar. Namun dia menilai, angka tersebut relatif masih kecil karena pasar yang digarap BKE masih sangat besar. Dari total 11.000-12.000 koperasi aktif, baru 1.540 koperasi yang digarap dengan rincian 1.300 koperasi PNS dan 240 koperasi pegawai swasta.

?Sekitar setengahnya atau 5.000 koperasi kita targetkan bisa kita biayai di sisa empat tahun ini,? ujarnya.

Ke depan, lanjut dia, BKE menerapkan strategi bank tanpa cabang (branchless banking). Pihaknya telah menekan kerja sama dengan PT Telkom untuk memodernisasi koperasi dengan format e-koperasi. Modernisasi yang akan menyasar pada regenerasi sumber daya manusia (SDM) koperasi hingga pembukuan elektronik itu akan dilakukan terhadap 3.000 koperasi dalam 3 tahun ke depan.

?Nanti akan ada rating untuk koperasi, semua cashflow kita tahu semua karena koperasi ini lemah sekali di pembukuan. Pilot project sudah selesai 10 koperasi. Strategi ini jauh lebih murah, karena kalau kita buka cabang itu overheaded costnya bisa Rp60 juta per bulan per cabang, kalau sistem ini hanya Rp1,5 juta per bulan,? terangnya.

Direktur Dana dan Layanan BKE Wahju Hidayat menambahkan, selain menambah fee based income BKE, rencana modernisasi koperasi juga akan mempermudah anggota koperasi melakukan transaksi untuk pembayaran kebutuhan seharihari. Tercatat, 2.000 jenis transaksi bisa dilayani melalui koperasi yang sudah bekerja sama dengan Telkom.

(dni)

Sumber : Okezone