JAKARTA – Bank Dunia telah menentukan indikator kemiskinan dengan batasan penghasilan sebesar USD2 per hari. Apabila di-rupiahkan dengan kurs sebesar Rp13.000 per USD, maka batas penghasilan masyarakat yang dikatakan adalah sebesar Rp26.000 per hari.

Namun, perhitungan ini ternyata tidak dapat digunakan untuk mengukur indikasi angka kemiskinan di Indonesia. Menurut Kepala BPS Suryamin, USD2 yang telah ditetapkan oleh Bank Dunia tidak dapat dikonversi langsung dengan Rupiah.

“Jangan kira USD2 sama dengan Rp26 ribu kalau kursnya Rp13 ribu. Salah itu. Bukan begitu cara melihatnya,” kata Suryamin di kantor pusat BPS, Jakarta, Rabu (15/6/2016).

[Baca juga: Bank Dunia Sebut Laju Ekonomi Masih Jadi Andalan Pangkas Kemiskinan]

Menurut Suryamin, cara penghitungan yang benar adalah dengan membandingkan jumlah makanan yang dapat dibeli di Amerika Serikat dengan harga USD2 dengan jumlah makanan yang dapat dibeli di Indonesia dengan jumlah yang sama. Daya beli inilah yang dapat menjadi faktor penentu kemiskinan pada suatu negara.

“Cara hitungnya begini, misal USD1 dibeli makanan di AS. Lalu bawa ke sini (Indonesia). Nah di sini bisa dapat berapa makanan. Kita bandingkan,” jelasnya.

Hal ini masih seringkali disalahpahami oleh masyarakat. Untuk itu, seringkali penghasilan dijadikan patokan utama bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengukur kemiskinan.

(rai)

Sumber : Okezone