PT Rifan Financindo – MEDAN ? Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT) mengungkapkan terjadi kontradiksi pada kondisi ekonomi Indonesia. Selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung naik, tapi di sisi lain terus terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di berbagai sektor industri dan bisnis.

?Jadi ada sedikit hal yang kontradiksi. Ekonominya tumbuh, tapi orang di-PHK, karena tumbuhnya itu akibat konsumsi,? jelas Hary pada acara kuliah umum di Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, Jalan Pelajar No 264 di Medan, Kamis (21/07/2016).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti dirilis BPS pada kuartal I-2016 tumbuh sebesar 4,92 persen. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal 1-2015 lalu yang mencapai 4,73 persen. Menurut Hary, salah satu yang bisa meningkatkan ekonomi adalah belanja konsumen atau consumer spending.

Ekonomi Indonesia tiga hingga empat tahun belakangan sejak harga komoditas andalan Indonesia turun itu lebih banyak ditopang oleh konsumsi. ?Ini cukup rarwan sehingga kalau kita lihat memang ekonomi kita tumbuh 4-5 persen, tapi secara bersamaan pengangguran juga turut naik,? sambungnya.

Data Kementerian Ketenagakerjaan, pada semester I-2016 terjadi PHK sebanyak 6.272 pekerja yang berasal dari 994 kasus. Per Juni 2016 saja, 2.251 pekerja dari 270 kasus terpaksa dirumahkan. Jumlah ini meningkat dibandingkan data Mei 2016 yang hanya mencatat PHK 13 pekerja dari 13 kasus. Sementara di sisi lain, jumlah PHK semakin besar jika merujuk data KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia). KSPI mencatat akumulasi PHK 2015 hingga Februari 2016 mencapai 17.680 pekerja.

Untuk mengangkat kembali ekonomi Indonesia supaya bisa kuat, menyerap tenaga kerja dan bersaing di pasar global perlu upaya serius yang sistematis. Yaitu dengan menggalakkan investasi, meskipun terjadi perlambatan ekonomi dunia. Khususnya di Eropa di mana ekonominya sedang melemah. Selain itu penguatan ekonomi bisa terjadi dengan peningkatan pendapatan pajak yang besar. Saat ini penerimaan sektor pajak masih belum maksimal, semester pertama 2016 hanya terealisasi 33,7 persen dari total perkiraan yang seharusnya diterima negara.

Terkait itulah, Hary menjelaskan sektor ekonomi produktif yang menciptakan lapangan pekerjaan perlu ditingkatkan. Dengan ekonomi kerakyatan, memberikan keberpihakan untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah seperti petani, buruh, nelayan, pelaku UMKM dan lainnya. Diharapkan kalangan ekonomi paling bawah tersebut bisa naik menjadi kalangan ekonomi kelas menengah ke atas yang ikut berkontribusi memacu pertumbuhan ekonomi.

Di pondok pesantren tersebut tampak sejumlah tokoh turut hadir. Diantaranya Ketua PBNU, KH Hasib Wahab, OFMCap Biara Kapusin Emaus Medan Guido Situmorang, mantan Kapolda Sumatera Utara Irjen. Pol. Wisnu Amat Sastro, Pendeta GBI Medan Hotman.

(rai)

Sumber : Okezone