JAKARTA – Pemerintah diminta untuk waspada terkait pergerakan harga minyak mentah dunia. Meskipun perekonomian Indonesia dipercayai telah melewati batas terendahnya, namun jatuhnya harga minyak dunia bisa menjadi batu sandungan yang berbahaya.

Kepala Pusat Studi Ekonomi Dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono mengatakan, meskipun beberapa waktu lalu sempat sedikit menguat, namun fluktuasi pergerakan harga minyak mentah dunia masih mengkhawatirkan.

“Saya pikir tadinya harga minyak turun itu bagus. Tapi turunnya terlalu radikal, sampai pernah USD27 per barel, turun 75 persen lebih,” katanya di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Senin (15/2/2016) malam.

Tony menjelaskan, turunnya harga minyak sebenarnya bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian karena mengurangi biaya logistik. Namun selama batas penurunannya sebesar 20 persen. Sayangnya yang terjadi turun hingga lebih dari 70 persen.

Terlebih lagi, saat ini banyak pihak yang memandang harga minyak yang pernah menyentuh USD27 per barel belum menyentuh level terendahnya. Bahkan diperkirakan harga minyak dunia masih bisa turun d bawah USD20 per barel.

“Nah ini yang diperkirakan ekonom kira-kira botomnya harga minyak sampai berapa. Ada yang bilang USD20 per barel bahkan IMF prediksi USD15 per barel,” imbuhnya.

Menurut Tony, jika harga minyak dunia telah berada di bawah level USD20 per barel maka akan berdampak cukup besar bagi perekonomian Indonesia.

“Dampaknya akan ke industri minyak awalnya Tapi dampaknya juga akan merembet ke yang lain. Saya harap si harga minyak jangan turun lagi di bawah USD30 dolar per barel, Karena enggak baik buat perekonomian kita,” pungkasnya.

(mrt)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/02/16/320/1313236/harga-minyak-mentah-idealnya-hanya-turun-20