JAKARTA – Stok minyak dunia tengah mengalami kelebihan pasokan. Untuk meredam keadaan ini, dibutuhkan penyelamat dan Arab Saudi mungkin bisa jadi sang penyelamat itu.

Sebuah sumber mengatakan pada CNN, pemain minyak regional bersedia melakukan apapun untuk menstabilkan pasar dan membuka banyak pilihan. Termasuk pertemuan darurat organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC seperti Rusia pada Februari mendatang.

Sumber itu mengatakan, Arab Saudi sebagai produsen minyak yang kuat mungkin melakukan perubahan. Sebagaimana diketahui, Arab sejak lama menolak mengurangi produksi lantaran takut kehilangan pangsa pasar. Namun, produksi minyak AS sedikit melambat dan harga minyak mendekati USD30 per barel.

Kemungkinan penyelamatan harga minyak ini datang setelah Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan OPEC dan non-OPEC akan mempertimbangkan penurunan produksi hingga 5 persen. Novak memperingati, masih terlalu dini untuk membuat perjanjian konkret.

Mengutip CNN, Juru Bicara (Jubir) Menteri Energi Rusia menyebut tidak ada tanggal resmi untuk pertemuan itu. Kendati begitu Jubir bilang, saat ini diskusi terus berlangsung. Menanggapi berita ini, harga minyak dunia sempat terkatrol hingga 7 persen pada perdagangan Kamis 28 Januari ke level USD36,28 per barel.

Pemotongan produksi ini bisa menjadi langkah besar karena saat ini pasar didera kelebihan pasokan. Hal ini menjadi alasan kenapa harga minyak dunia jatuh hingga 75 persen sejak pertengahan 2014 hingga menyentuh USD26 per barel.

“Jika terealisasi, pemangkasan produksi bisa menjadi langkah menuju pembentukan harga terendah minyak mentah,” kata Analis Senior di DTN Darin Newsom.

Pada akhir 2014, Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al-Naimi mengatakan pihaknya tidak akan pernah mempertimbangkan pemotongan produksi bahkan jika negara non-OPEC melakukan pemangkasan. “Jika mereka ingin memangkas produksi, kami tidak akan memotong,” papar Al-Naimi.

Rusia enggan untuk memberi sinyal memotong produksi. Pasalnya ekonomi Rusia sangat membutuhkan pendapatan minyak karena terus merasakan beban sanksi dari Barat. Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar di dunia pada 2014 dengan produksi 10 juta barel per hari.

Sudah ada pertanyaan yang diajukan tentang setiap potensi kesepakatan produksi antara OPEC dan Rusia akan diberlakukan. Pasalnya Rusia memiliki beberapa perusahaan minyak besar dengan yang bersaing. Sebagai perbandingan, yang dikelola negara Saudi Aramco memiliki monopoli virtual di Arab Saudi dan dikendalikan oleh kerajaan.

“Bahkan jika OPEC siap untuk mengubah taktik dan mengoordinasikan penurunan produksi, tidak jelas bahwa Rusia akan menjadi mitra terpercaya,” sebut Kepala Riset Komoditas di Capital Economics Julian Jessop dalam sebuah laporan.

Penting untuk dicatat bahwa Arab Saudi dan Rusia memiliki sejarah tidak sama, mengingat dukungan Rusia bagi rival Saudi Iran. Dan bahwa Rusia telah menghadiri pertemuan OPEC pada tahun 2014 dan 2015 untuk membahas perjanjian potensial, namun keduanya gagal.

(mrt)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2016/01/29/320/1300613/hanya-arab-yang-bisa-menjadi-penyelamat-harga-minyak?page=1