Rifan Financindo – CHICAGO – Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange mengalami penurunan tajam pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena dolar AS menguat secara signifikan setelah Brexit.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Desember turun USD43, atau 3,28 persen, menjadi menetap di USD1.269,7 per ounce.

Karena poundsterling Inggris mencapai tingkat terendah 31 tahun setelah Brexit, dolar AS telah menguat secara tajam, dengan indeks dolar AS naik 0,4 persen menjadi 96,13 pada pukul 18.45 GMT.

Indeks adalah ukuran dari dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama. Emas dan dolar biasanya bergerak berlawanan arah, yang berarti jika dolar naik maka emas berjangka akan jatuh, karena emas yang diukur dengan dolar menjadi lebih mahal bagi investor.

Para analis mencatat bahwa kekacauan pasar yang disebabkan oleh kejatuhan sterling ini biasanya akan mendukung emas; namun demikian, data ekonomi AS terus membaik dan Federal Reserve AS telah mempertahankan prospek kenaikan suku bunga pada 2016.

Hal ini telah menyebabkan investor berdatangan ke dolar AS sebagai sebuah “safe haven”, sehingga hanya meningkatkan nilai relatif terhadap sterling, karena kombinasi dari kenaikan suku bunga yang kian dekat dan jatuhnya pound telah menahan selera terhadap emas yang merupakan aset tidak memberikan suku bunga.

Logam mulia diletakkan di bawah tekanan lebih lanjut, ketika Presiden Federal Reserve Richmond Jeffrey Lacker mengatakan kepada investor bahwa ia percaya bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunganya lebih awal, seperti yang dilakukan pada 1994. Dia mencatat bahwa tindakan preemptive berhasil dan meletakkan dasar untuk stabilitas harga untuk dekade berikutnya.

Perak untuk pengiriman Desember turun USD1,093, atau 5,80 persen, menjadi ditutup pada USD17,775 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari 2017 turun USD18,6, atau 1,84 persen, menjadi ditutup pada USD990,5 per ounce.

(rai)

Sumber : Okezone